NADIKABAR.COM — Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Palestina Varsen Aghabekian di Baku, Azerbaijan, dan menegaskan dukungan terhadap "solusi dua negara".

"China juga akan menyerukan kepada semua negara pencinta perdamaian untuk dengan teguh mendukung 'solusi dua negara' dan bersama-sama mendorong penyelesaian masalah Palestina secara menyeluruh, adil, dan berkelanjutan sesegera mungkin," demikian keterangan di laman Kementerian Luar Negeri China yang diakses ANTARA dari Beijing, pada Kamis.

Pertemuan itu berlangsung pada sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konferensi Interaksi dan Tindakan Membangun Kepercayaan di Asia (CICA) yang diselenggarakan pada 15 Oktober 2026.

Wang Yi menyatakan China merupakan salah satu negara pertama yang mengakui Palestina.

"China dan Palestina adalah sahabat baik dan saudara dekat, serta kedua pihak telah mewarisi persahabatan selama puluhan tahun. Bagaimanapun perubahan situasi internasional, rakyat China selalu berdiri bersama rakyat Palestina dan dengan teguh mendukung perjuangan yang adil rakyat Palestina untuk memulihkan hak-hak nasionalnya yang sah," kata Wang Yi.

Saat ini, tambah Wang Yi, kemitraan strategis China-Palestina terus menunjukkan momentum perkembangan.

China pun disebut bersedia bekerja sama dengan Palestina untuk semakin meningkatkan rasa saling percaya secara strategis dan mendorong perkembangan hubungan bilateral.

"Masalah Palestina merupakan persoalan yang paling lama berlarut-larut dan menjadi perhatian internasional, serta ketidakadilan historis terbesar di dunia sejak Perang Dunia II. Jika masalah ini tidak diselesaikan secara adil, Timur Tengah tidak akan dapat mencapai perdamaian dan stabilitas jangka panjang," tambah Wang Yi.

Wang Yi mengungkapkan saat ini, situasi di Timur Tengah terus mengalami ketegangan sehingga menimbulkan kesulitan baru dalam penyelesaian masalah Palestina.

"Masalah Palestina tidak boleh dikesampingkan, dan dunia tidak boleh melupakan dua juta warga Palestina di Gaza yang sedang berjuang di ambang kematian. Keadilan mungkin datang terlambat, tetapi tidak akan pernah absen," ucap Wang Yi.

Sedangkan Varsen menyampaikan perkembangan terbaru mengenai masalah Palestina dan menekankan bahwa masyarakat internasional tidak boleh menerapkan standar ganda dalam menangani masalah Palestina.

"Palestina berterima kasih kepada China atas dukungan kuat yang telah diberikan selama ini kepada rakyat Palestina dalam memulihkan hak-hak nasionalnya yang sah, atas sikap China yang secara konsisten menyuarakan dukungan bagi Palestina dalam berbagai forum multilateral internasional, serta atas bantuan tanpa pamrih yang diberikan dalam bidang kemanusiaan di Gaza," kata Varsen.

Palestina dan China, sebut Varsen, mempertahankan persahabatan tradisional dan memiliki kerja sama yang baik.

"Palestina berharap dapat terus memperdalam hubungan bilateral dengan China serta mengharapkan China terus membela keadilan bagi Palestina dalam masalah Palestina dan memainkan peran yang lebih penting dalam mewujudkan 'solusi dua negara'," tambah Varsen.

Kondisi keamanan di Palestina masih diwarnai aksi penembakan oleh pihak Israel. Insiden terbaru, sebanyak lima warga Palestina tewas akibat tembakan tentara Israel di Jalur Gaza pada Minggu (11/10), termasuk seorang anak.

Sejumlah sumber setempat mengatakan sebuah drone Israel menembakkan setidaknya satu rudal ke sebuah stasiun pengisian daya ponsel di daerah Al-Buraq di sebelah barat Khan Younis di Gaza selatan pada Minggu malam waktu setempat, sehingga menyebabkan ledakan keras.

Sejak gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada Oktober 2025, serangan Israel telah menewaskan 1.488 orang, menjadikan total korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 mencapai 74.250 orang dan korban luka 175.278 orang, kata Kementerian Kesehatan Gaza menjelang tiga tahun peristiwa Oktober 2023 tersebut.

Pada Oktober 2023, konflik antara Palestina dan Israel kembali bergejolak ketika Israel menghadapi serangan roket besar-besaran dari Jalur Gaza. Setelah itu, pasukan Israel melancarkan operasi darat yang mengakibatkan sebagian besar wilayah di Jalur Gaza hancur.

Sejak Oktober 2025, gencatan senjata telah diberlakukan di Jalur Gaza. Namun, militer Israel terus menggempur wilayah Palestina dengan dalih menargetkan fasilitas dan anggota kelompok perjuangan Palestina, Hamas.

Menurut penilaian PBB, situasi kemanusiaan di wilayah kantong itu masih parah di tengah kehancuran masif, gangguan operasional lembaga medis, dan masalah berkelanjutan dalam menyediakan makanan dan kebutuhan pokok bagi penduduk di sana.