Betapa dinginnya hubungan tersebut dan diperkirakan akan tetap begitu, nampak jelas ditunjukkan diplomat Rusia Sergey Lavrov. Dengan nada meremehkan terhadap Wadephul, Menteri Luar Negeri Rusia itu mengatakan kepada kantor berita Jerman (dpa) bahwa dirinya tidak mendengar sesuatu yang berbeda dari pernyataan publik harian Berlin.

Oleh karena itu, ia berkata kepada Wadephul, "Anda seharusnya cukup menelepon dan katakan: silakan baca penjelasan saya."

Sementara itu, Wadephul memilih kata-kata yang lebih moderat setelah pembicaraan tersebut. Dalam siaran televisi ARD, ia mengatakan bahwa salah satu alasan penting baginya untuk menyetujui pertemuan tersebut adalah upaya serangan pesawat nirawak yang terjadi di bandara Leipzig.

Pemerintah Federal Jerman menuduh Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. "Untungnya tidak terjadi hal yang buruk," kata Menlu Jerman tersebut. Namun, ia menegaskan kepada Lavrov bahwa Jerman akan menentang dan melawan hal tersebut.

Secara prinsip, Menteri Luar Negeri Jerman menambahkan bahwa vakumnya hubungan diplomatik setelah serangan Rusia terhadap Ukraina di awal tahun 2022, memang tepat. Namun, kini saatnya telah tiba untuk kembali berdialog. "Kita tidak perlu bernegosiasi dengan teman, tetapi harus bernegosiasi dengan lawan," rangkum Wadephul.

Hal itu nampaknya juga merupakan reaksi terhadap tuntutan yang telah lama dilontarkan oleh lawan politik CDU seperti Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang berhaluan ekstrem kanan serta Allians Sahra Wagenknecht (BSW) dan Partai Kiri untuk kembali berdiskusi dengan Rusia, meskipun perang tengah berlangsung.

Namun hingga saat ini, pihak Rusia sama sekali tidak pernah menunjukkan kesediaan untuk berdialog. "Kepada semua orang yang terus-menerus mengatakan bahwa Jerman harus bernegosiasi, Jerman harus berbicara dengan Rusia, kepada mereka saya katakan sekarang: Kami sedang melakukannya," jelas Menlu Jerman tersebut.