NADIKABAR.COM — Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot, Selasa (6/10), menyatakan bahwa Prancis harus “menulis kisahnya sendiri” daripada membiarkan pihak lain mendefinisikan peristiwa yang terjadi di negara tersebut.

Dia menyampaikan pernyataan tersebut untuk menanggapi komentar Presiden AS Donald Trump mengenai protes siswa sekolah menengah yang sedang berlangsung di Prancis.

"Jika kita tidak menulis kisah kita sendiri, pihak lain yang akan menulisnya untuk kita," kata Barrot sebagaimana dikutip oleh saluran penyiaran BFMTV, seraya memperingatkan agar Prancis tidak membiarkan dirinya "menjalani kisah yang ditulis orang lain."

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump mengaitkan protes yang dipimpin oleh para siswa di Prancis itu dengan apa yang ia sebut sebagai "migrasi massal yang tak terkendali" dan Islam.

"Apa yang terjadi di Prancis tak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali. Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulunya hebat!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya.

Komentar Trump muncul saat puluhan ribu siswa, guru, dan pengunjuk rasa lainnya turun ke jalan di seluruh Prancis karena berbagai kekhawatiran, termasuk memburuknya infrastruktur sekolah, kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, serta masalah pendanaan pendidikan.

Barrot mengatakan bahwa "para pesaing, lawan, dan mitra" Prancis semuanya berusaha menafsirkan gerakan yang sedang berlangsung ini "dengan cara mereka sendiri."

Aksi protes semakin memanas dalam beberapa hari terakhir, dengan demonstrasi yang meluas ke seluruh penjuru negeri dan laporan mengenai bentrokan di sejumlah kota.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa 488 orang ditangkap pada hari Selasa terkait dengan demonstrasi tersebut, sementara 43 petugas penegak hukum mengalami luka-luka.

Aksi protes yang awalnya dipicu oleh tuntutan terkait kondisi dan sumber daya sekolah ini telah berkembang menjadi salah satu mobilisasi siswa terbesar di Prancis dalam beberapa dekade terakhir, dengan melibatkan 450.000 peserta menurut pihak penyelenggara.

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia