NADIKABAR.COM — Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir atau Tata mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tawaran bantuan dari negara tetangga untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Saat ini, pemerintah masih membahas teknis pelaksanaan bantuan tersebut.

"Terkait apa yang bantuan yang di ingin diberikan oleh negara-negara tetangga itu sudah dibahas, ya, dan itu sekarang dalam proses. Bapak Presiden juga seperti kita ketahui sudah menyampaikan persetujuannya," kata Arrmanatha di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Tata belum merinci bentuk bantuan yang akan diberikan negara tetangga. Menurutnya, pembahasan masih berlangsung di tingkat teknis, yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Ini sudah dalam proses pembahasan di level teknis, ya. Jadi ini kan level teknisnya adalah BNPB, jadi itu yang perlu ini," katanya.

Tata menegaskan penanganan karhutla menjadi perhatian Presiden Prabowo. Pemerintah, kata dia, terus mengerahkan personel dan berbagai peralatan untuk menangani kebakaran di sejumlah wilayah.

"Seperti yang kita ketahui bersama bahwa jumlah personel yang diturunkan itu untuk enam provinsi sudah sangat banyak, ya, sekitar 60 ribu personel, dan juga berbagai aset, ya, seperti helikopter, pesawat, itu jumlahnya juga cukup besar, ya, untuk melakukan water bombing, untuk melakukan rekayasa cuaca," ujarnya.

Selain itu, Tata menyinggung upaya penanganan polusi kabut asap lintas batas melalui ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACC THPC). Dia mengatakan Indonesia telah melaporkan perkembangan penanganan karhutla secara berkala melalui mekanisme tersebut.

"Jadi sejak bulan Agustus ACC THPC ini itu adanya kan di interim Coordinating Centre-nya kan adanya di Sekretariat ASEAN. Eh, dan mereka menetapkan level 3 dan kita telah memenuhi seluruh kewajiban-kewajiban kita untuk menyampaikan pelaporan secara reguler," ucapnya.

Tata mengatakan laporan terakhir menunjukkan adanya perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Salah satunya ditandai dengan berkurangnya jumlah titik panas (hotspot).

"Dan dari laporan yang terakhir saya dapatkan, ya, bahwa ada kemajuan, ya. Setiap hari ada kemajuan, jumlah hotspot itu berkurang, ya. Jadi itu yang mungkin detailnya bisa ditanyakan eh kepada BNPB. Jadi itu ya, teman-teman," tambahnya.