NADIKABAR.COM — Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, Rabu, mengatakan bahwa Israel akan terus melanjutkan kebijakan dan langkah-langkah yang merusak prospek perdamaian kecuali jika terdapat "langkah-langkah internasional yang efektif" untuk mencegahnya.

Pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Yordania menyebutkan bahwa hal itu disampaikan Safadi dalam pertemuan untuk memperingati satu tahun Konferensi Deklarasi New York, yang diselenggarakan oleh Prancis, Inggris, Kanada, dan Arab Saudi, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 yang sedang berlangsung di New York.

Safadi mengatakan bahwa dukungan internasional terhadap solusi dua negara harus "diwujudkan dalam langkah-langkah nyata yang dapat mencegah Israel," seraya memperingatkan bahwa kebijakan-kebijakan Israel "merusak prospek tercapainya perdamaian."

Dia menyatakan bahwa "sementara masyarakat internasional berupaya mewujudkan perdamaian yang adil, pemerintah Israel justru merusak solusi dua negara", yang dia gambarkan sebagai "satu-satunya jalan menuju perdamaian", melalui langkah-langkah yang melanggar hukum internasional.

"Israel merasa tidak peduli dengan sikap mayoritas negara yang mendukung solusi dua negara karena mereka tidak pernah dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan yang merusak prospek perdamaian ataupun menghadapi tindakan pencegahan internasional yang efektif," kata Safadi.

Dia menyambut baik negara-negara yang telah mengakui negara Palestina dan mengambil langkah-langkah terhadap kebijakan Israel, namun dia menekankan perlunya "tindakan yang lebih luas dan lebih tegas untuk menghadapi perluasan permukiman, penyitaan lahan, dan krisis kemanusiaan yang kian memburuk di Gaza."

Pertemuan tersebut dibuka oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterrers juga turut hadir.

Menurut kementerian tersebut, pertemuan itu dihadiri oleh para kepala negara dan perwakilan dari 29 negara, serta Uni Eropa.

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia