Tantangan berikutnya yakni konsentrasi kunjungan pada musim puncak penyelenggaraan event kadang menimbulkan tekanan berlebih terhadap kapasitas destinasi, mulai dari ketersediaan akomodasi hingga infrastruktur pendukung lainnya dan keberlanjutan kunjungan di luar masa penyelenggaraan event.
Ia juga menyoroti soal standardisasi layanan, profesionalisme penyelenggara, dan pengelolaan risiko yang baik sebagai prasyarat mutlak bagi event berkelas dunia.
Kementerian Pariwisata sendiri saat ini secara konsisten mendorong pemerintah daerah, kementerian/lembaga, swasta, pemerhati pariwisata lainnya untuk merancang event olahraga yang lahir dari karakter dan keunikan lokal, bukan sekadar replikasi format yang sudah teruji di tempat lain.
Widiyanti berharap keempat tantangan ini dapat diidentifikasi dan menjadi bagian integral dari penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga yang dimulai bersama pada hari ini.
Maka dari itu, dia mendorong penguatan langkah kolaboratif dalam memperkuat potensi wisata olahraga sebagai salah satu strategi utama meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional.
"Kami meyakini bahwa desain besar ini akan menjadi fondasi penting yang semakin memperkuat posisi sports tourism sebagai salah satu motor pertumbuhan pariwisata Indonesia ke depan. Karenanya kita perlu terus bersinergi agar sports tourism di Indonesia dapat tumbuh menjadi lebih baik," ujar Widiyanti.