Dari sisi produksi, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 mencatat terdapat 43 sentra tenun ulos di Sumatera Utara, antara lain di Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun.

Menurut Sarmuji, keberadaan sentra produksi tersebut menjadi modal bagi pengembangan IKM tenun ulos, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional, baik untuk produk fesyen maupun produk turunan lainnya.

Di sisi lain, ia menegaskan pelestarian ulos tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keberlanjutan tradisi menenun yang selama ini banyak dijalankan perempuan. Aktivitas tersebut tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga mendukung perekonomian keluarga dan daerah.

"Ulos bukan sekadar kain atau produk budaya, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas, tradisi, dan penghidupan masyarakat Batak, karena di setiap lembar ulos tersimpan ketekunan, keterampilan, serta nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun," kata dia.