NADIKABAR.COM — Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong pendalaman hilirisasi industri berbasis sumber daya alam guna menciptakan nilai tambah, memperkuat daya saing produk nasional, serta menjadi sumber pertumbuhan industri yang berkelanjutan.
Menurut dia, Indonesia perlu memperkuat keunggulan sumber daya alam yang khas dan sulit ditiru negara lain, seperti di industri agro yakni kelapa sawit, kelapa, rumput laut, sagu, serta berbagai komoditas alam lainnya untuk dikembangkan menjadi bahan baku, produk inovatif, dan industri bernilai tambah tinggi.
"Strateginya bukan sekadar menjual komoditas, tetapi memperdalam hilirisasi, memperkuat riset dan inovasi, membangun merek, serta menguasai pasar produk turunan," kata Sarmuji dalam pameran Krista Interfood 2026 di Tangerang, Banten, Rabu.
Ia menjelaskan, pengembangan keunggulan sumber daya alam tersebut diharapkan mampu mengubah keunggulan komparatif Indonesia menjadi keunggulan kompetitif yang mendorong pertumbuhan industri secara berkelanjutan.
Sarmuji menyampaikan, industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor strategis dalam struktur industri pengolahan nasional. Pada Semester I 2026, sektor tersebut tumbuh 6,77 persen atau meningkat 0,68 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontribusi industri makanan dan minuman terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas mencapai 41,86 persen. Sementara itu, investasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp47,74 triliun, dengan 59 persen di antaranya berasal dari penanaman modal dalam negeri.
Dari sisi perdagangan, ekspor industri makanan dan minuman selama Januari-Agustus 2026 mencapai 34,65 miliar dolar AS, sedangkan impornya sebesar 9,7 miliar dolar AS. Dengan demikian, sektor tersebut mencatatkan surplus perdagangan hampir 25 miliar dolar AS dan menyerap 6,92 juta tenaga kerja.
Menurut Menperin, capaian tersebut perlu terus ditingkatkan melalui penguatan produktivitas, inovasi, pemanfaatan bahan baku lokal, peningkatan nilai tambah, serta perluasan akses pasar.
Kemenperin juga mendorong pengembangan produk unggulan daerah melalui program One Village One Product (OVOP), yang memanfaatkan kearifan lokal dan sumber daya setempat agar memiliki daya saing di pasar nasional maupun global.
Selain itu, penguatan industri pangan dilakukan melalui program Indonesia Food Innovation (IFI), yang merupakan program akselerasi bisnis untuk mendorong industri kecil dan menengah (IKM) menghasilkan produk yang marketable, profitable, dan sustainable.
Adapun pada penyelenggaraan keenam tahun 2026, IFI melibatkan 30 IKM pangan terpilih dari 1.139 pendaftar untuk mengikuti pembinaan melalui Food Camp.