Menurut Agus Gumiwang, pertumbuhan industri padat karya memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan satu persen pada industri padat karya dinilai mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan pertumbuhan yang sama pada industri padat modal.
"Pertumbuhan di sektor ini adalah pertumbuhan yang langsung dirasakan oleh masyarakat," ujarnya lagi.
Di sisi lain, Agus mengakui masih terdapat subsektor yang menghadapi tekanan. Subsektor karet, barang dari karet, dan plastik mengalami kontraksi sebesar 7 persen. Sementara itu, logam dasar, kertas, dan pengolahan tembakau mencatat pertumbuhan yang relatif rendah.
Selain itu, berdasarkan data Bank Dunia, nilai tambah manufaktur Indonesia pada 2025 mencapai 275,61 miliar dolar Amerika Serikat (AS), sehingga menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia.