NADIKABAR.COM β Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan sejumlah tekanan yang dihadapi industri nasional sekaligus strategi pemerintah untuk menjaga daya saing sektor manufaktur dalam kondisi ekonomi global yang penuh tantangan.
Menperin Agus dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu menyampaikan tekanan terhadap industri tercermin dari Purchasing Managersβ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang pada Agustus 2026 berada di level 49,8 atau sedikit di bawah ambang ekspansi 50.
Namun, ia menekankan kondisi tersebut perlu dilihat secara berimbang dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang disusun Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Pada Agustus, IKI masih berada di level ekspansif 52,3 dan selama delapan bulan 2026 tidak pernah turun di bawah 50.
Menurut Agus, perbedaan kedua indikator tersebut menunjukkan pelaku industri masih memiliki kepercayaan terhadap prospek usaha, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan nyata di lapangan.
PMI dinilai lebih cepat menangkap gejolak karena mengukur kondisi pembelian dan pesanan perusahaan pada bulan berjalan, sedangkan IKI memiliki cakupan perusahaan yang lebih luas dan bobot besar pada pesanan baru.
Menperin Agus memaparkan setidaknya empat tekanan utama yang saat ini membebani industri nasional, yakni banjir impor, ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, dan daya beli masyarakat.
Banjir impor terjadi di tengah kelebihan kapasitas produksi global, terutama pada sektor baja, tekstil, keramik, plastik, dan elektronik.
Menurut Menperin, kondisi tersebut semakin menekan industri domestik karena sejumlah produk impor masuk dengan harga sangat rendah. Persaingan harga menjadi semakin berat bagi produsen dalam negeri yang harus menanggung biaya produksi dan operasional.