NADIKABAR.COM — Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf meminta masyarakat agar melakukan sanggah bila mengetahui ada kesalahan terkait data mereka di Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

"Jadi sekarang DTSEN ditambah dengan digitalisasi bansos, setiap saat bisa dimutakhirkan dan boleh untuk disanggah. Kalau ada data-data yang dirasa salah, silakan disanggah," kata Mensos Saifullah Yusuf di Jakarta, Rabu.

Hal itu dikatakannya menanggapi adanya warga miskin di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang tercatat memiliki aset Rp1 miliar di DTSEN.

Menurut dia, cara mengajukan sanggah atau pembaruan data desil di DTSEN bisa dilakukan lewat laman resmi BPS maupun aplikasi Cek Bansos Kemensos.

"(Pengajuan sanggah) bisa lewat call center, bisa lewat aplikasi yang sudah kita siapkan, atau lewat portal Perlinsos kita," kata Saifullah Yusuf.

Pihaknya mengakui masih banyak ditemukan data masyarakat yang tidak sesuai di DTSEN. Salah satunya karena KTP penerima bansos dimanfaatkan oleh orang lain untuk membeli aset.

"Sering kali kita temukan ada beberapa yang tidak sesuai dengan kenyataan. Contohnya banyak ternyata KTP keluarga penerima manfaat dimanfaatkan orang lain untuk membeli aset, seperti membeli rumah, membeli tanah, membuat perusahaan, membeli mobil, itu banyak yang seperti itu," kata Saifullah Yusuf.

Oleh karena itu, menurut dia, dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk mengajukan perbaruan data DTSEN.

Sebelumnya viral di media sosial mengenai warga miskin di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang tercatat memiliki aset Rp1 miliar di DTSEN dan masuk kelompok masyarakat mampu (Desil 5).

Padahal warga tersebut tinggal di kontrakan tripleks berukuran 3x3 meter bertarif Rp20.000 per hari di bantaran kali Kampung Bali, Tanah Abang, bersama dua anaknya dan menantunya.