Dalam sistem yang disiapkan, petani jagung akan terhubung dengan koperasi dan peternak sebagai bagian dari rantai pasok. Ketika produksi jagung melimpah, hasil panen yang berlebih akan dibeli Bulog dan disimpan melalui mekanisme resi gudang.

Stok tersebut kemudian dapat dimanfaatkan kembali oleh peternak ketika pasokan mulai terbatas, terutama pada periode September hingga November.

β€œTanam jagung, kemudian offtaker-nya peternak. Kalau berlebih jagungnya dibeli oleh Bulog, menjadi resi gudang. Begitu masa paceklik, September, Oktober, November, itu boleh diambil kembali oleh peternak yang mendampingi dari Bulog. Jadi nanti ini suatu ekosistem, ini solusi permanen,” jelasnya.

Amran menegaskan, koperasi menjadi salah satu penggerak penting dalam sistem tersebut. Koperasi yang telah berjalan tidak perlu dibubarkan atau diganti, tetapi diperkuat agar mampu menghubungkan kebutuhan peternak dengan produksi jagung petani.

Melalui skema itu pemerintah ingin menciptakan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku pakan bagi peternak.

Menurutnya perlindungan terhadap petani dan peternak penting karena sektor tersebut menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 160 juta masyarakat Indonesia.