NADIKABAR.COM — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan kekuatan seorang pemimpin ditentukan dari keberanian untuk mengambil kebijakan yang tepat untuk kepentingan rakyat. Hal ini ia sampaikan saat berbagi pengalaman dan pelajaran kepemimpinan kepada peserta didik Kuliah Kerja Profesi I Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-36 Tahun Anggaran 2026.
"Kita harus ingat, bapak-bapak ini pemimpin. Yang paling penting adalah kebijakan. Kebijakan yang salah jauh lebih berbahaya dari koruptor. Karena itu pemimpin harus berani mengambil keputusan yang benar dan berpihak kepada rakyat," kata Amran dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9/2026).
Dalam acara yang digelar di kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (28/9), kepada peserta didik yang terdiri dari perwira menengah Polri, TNI, dan Kejaksaan tersebut, Amran menjelaskan seorang pemimpin tidak cukup hanya bekerja keras, tetapi harus mampu membaca persoalan, banyak belajar, lalu berani mengambil keputusan yang berdampak nyata.
Ia mencontohkan terobosan kebijakan di sektor pertanian yaitu perubahan tata kelola pupuk yang mampu memangkas rantai distribusi dan menghasilkan penghematan besar bagi negara.
"Kami diperintah Pak Presiden Prabowo untuk selesaikan masalah pupuk. Kami analisis tiga hari, kami panggil Direktur Pupuk Indonesia. Kami selesaikan kebijakan untuk pupuk termasuk revitalisasi pabrik. Bayangkan, Rp 500 triliun bisa kami hemat hanya karena secarik kertas. Itu baru satu kebijakan," jelasnya.
Ia mengatakan perubahan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat fondasi swasembada pangan yang telah dicapai Indonesia. Hasilnya berbagai capaian ditorehkan sektor pertanian, mulai dari pencapaian swasembada pangan tercepat, stok pangan yang kuat, kesejahteraan petani meningkat, ekspor pertanian meningkat, impor pertanian menurun, dan lainnya.
"Kita sudah swasembada dan insya Allah berkelanjutan. Stok kita tertinggi selama merdeka pernah mencapai 5,37 juta ton. Kita juga mendapat dua penghargaan tertinggi dari FAO," katanya.
Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari keberanian melakukan perbaikan kebijakan dan membangun kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan keberhasilan tidak mungkin dicapai oleh satu institusi atau satu orang saja.