Sarmuji mengungkapkan, dalam pertemuan itu, GAPMMI menyampaikan sejumlah isu terkait industri makanan dan minuman (mamin) olahan, termasuk kebutuhan bahan baku. Kemenperin, tegas Sarmuji, memastikan memberi dukungan yang dibutuhkan untuk menciptakan industri nasional yang lebih berdaya saing.

"Kalau industri makanan minuman itu, isu daya saing sebenarnya nggak terlalu karena mereka cukup kuat. Bahkan makanan minuman kita pertumbuhannya juga cukup baik, ekspor ke banyak negara, banyak lah ke mancanegara. Hanya saja tentu ada hal-hal jadi aspirasi mereka, soal bahan baku. Contoh, bahan baku beras pecah itu kalau kita impor dari luar negeri harganya sekitar Rp 5.700 atau Rp 6.000 maksimal, tapi kalau produksi dalam negeri harganya dipatok sekitar Rp 11.000 tentu ada selisih cukup besar," kata Sarmuji, dikutip dari CNBC Indonesia.