"Kami ingin mengenalkan sampah plastik tidak hanya jenis HDPE, tetapi juga jenis plastik kemasan (MLP) yang selama ini dianggap sulit didaur ulang oleh para pelaku daur ulang. Namun kami bisa mengolah, salah satunya menjadi kaki palsu yang prioritasnya dibagikan kepada penyandang disabilitas yang tidak mampu," ujarnya.
Ketua YKKS Made Aditiasthana menjelaskan satu kaki palsu membutuhkan sekitar lima kilogram sampah plastik sebagai bahan baku. Setelah melalui proses pengolahan dan pembentukan, material tersebut menyusut menjadi sekitar 2-3 kilogram.
Ia mengatakan penggunaan plastik daur ulang membuat setiap kaki palsu memiliki corak dan warna yang berbeda sesuai material sampah yang digunakan.
"Corak kreativitasnya dari pekerja. Corak terbentuk dari warna asli sampah. Misalnya putih dengan bercak hitam, menggunakan sampah putih dan hitam," katanya.
Dia mengatakan warna dan corak kaki palsu juga dapat disesuaikan dengan permintaan penerima sehingga produk tersebut tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga nilai estetika.