Kondisi tersebut, lanjut Mukhtarudin, membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di pasar global. Namun, peluang itu harus diimbangi dengan peningkatan keterampilan, penguasaan bahasa asing, kedisiplinan, serta pemahaman terhadap budaya kerja di negara tujuan.

"Pelatihan dalam Program SMK Go Global ini sepenuhnya dibiayai melalui APBN. Ini merupakan wujud komitmen Kementerian P2MI untuk menghadirkan pelatihan berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional," ujar Mukhtarudin.

Mukhtarudin menjelaskan, pelaksanaan program tersebut berlandaskan Asta Mandala SMK Go Global yang dirancang agar kebijakan penempatan pekerja migran tidak semata-mata berorientasi pada jumlah tenaga kerja yang diberangkatkan.

Melalui landasan tersebut, pemerintah mendorong pencapaian Panca Sukses yang meliputi sukses kompetensi, sukses pelindungan, sukses penempatan, sukses remitansi, dan sukses tata kelola. Kelima sasaran itu diharapkan menghasilkan Tri Dampak, yakni dampak sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dampak ekonomi.

Untuk memperluas jangkauan program, Kementerian P2MI menargetkan pembentukan 2.000 kelas pelatihan di seluruh 23 wilayah kerja BP3MI. UKRI menjadi salah satu mitra pelaksana program tersebut dengan kegiatan pelatihan yang telah berjalan sejak awal September 2026.

Kementerian P2MI juga menetapkan target penempatan pekerja migran melalui program SMK Go Global secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.

Mukhtarudin berpesan agar seluruh peserta memanfaatkan kesempatan pelatihan dengan sungguh-sungguh. Selain meningkatkan keterampilan sesuai bidang masing-masing, peserta diminta memperkuat kemampuan bahasa, kedisiplinan, dan pemahaman budaya kerja sebagai bekal memasuki lingkungan kerja internasional.

Lebih lanjut, ia menegaskan penyiapan kompetensi sejak dari dalam negeri merupakan bagian penting dari pelindungan pekerja migran. Dengan bekal keterampilan dan sertifikasi yang sesuai, calon pekerja migran diharapkan dapat mengakses peluang kerja melalui prosedur resmi serta terhindar dari risiko penempatan nonprosedural.

UKRI Dorong Kolaborasi Berkelanjutan