Pengerjaan yang berlangsung dari titik STA 3+200 hingga STA 3+260 di kawasan Kr. Pase tersebut bertujuan untuk mempercepat aliran buangan air genangan dari kawasan permukiman menuju muara.

Percepatan serupa juga dilakukan di Kabupaten Nagan Raya guna mengantisipasi ancaman abrasi tebing sungai yang kian mendekati perumahan di Desa Pulo Raga dan Desa Krueng Cut, Kecamatan Beutong.

Kemudian pada 3-4 November 2026, alat berat excavator dikerahkan untuk membangun tanggul darurat sekaligus menormalisasi alur Sungai Krueng Seunagan di Desa Krueng Cut yang berbatasan dengan jalur lintas Meulaboh–Beutong. Langkah ini efektif mengalihkan tekanan arus kuat dari tebing yang dalam kondisi kritis.

Adapun di Kabupaten Pidie Jaya, pengerjaan fisik ditingkatkan dengan pengerahan dua unit excavator secara simultan di Desa Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, pada 3 dan 4 November 2026.

Alat berat tersebut difokuskan untuk mempercepat perbaikan tanggul jebol serta merapikan alur Krueng Meureudu pascabanjir luapan akhir Oktober lalu yang sempat melumpuhkan Jalan Nasional Banda Aceh–Medan.

Dengan perbaikan ini, alur sungai diharapkan mampu menampung peningkatan debit air tanpa kembali meluap ke ruas jalan vital maupun gampong di sekitarnya.

Kementerian PU berkomitmen untuk terus bersiaga 24 jam bersama BPBD, TNI, Polri dan pemerintah daerah setempat.

Selain menempatkan alat berat di lokasi-lokasi rawan, Kementerian PU melalui BWS Sumatera I juga terus memantau perkembangan Tinggi Muka Air (TMA) serta menyiapkan bahan banjiran seperti geobag dan sandbag guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem susulan di wilayah hulu.