NADIKABAR.COM — Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA memanfaatkan penyelenggaraan "World Media Summit" ke-7 di Beijing untuk membangun jejaring dengan perusahaan-perusahaan media di berbagai negara guna mengatasi tantangan kecerdasan buatan (AI).
"AI tidak hanya mengubah cara informasi diproduksi dan didistribusikan, tetapi juga menghadirkan tantangan terhadap kredibilitas media, profesionalisme jurnalis, dan masa depan industri pers," kata Direktur Utama ANTARA Abdul Hakim di Balai Besar Rakyat, Beijing, Sabtu.
Abdul Hakim menyampaikan hal itu di sela-sela upacara pembukaan "World Media Summit" yang bertema "Media di Era Kecerdasan: Dari Konsensus Menuju Aksi". Acara itu mempertemukan hampir 500 delegasi dari sekitar 330 media arus utama, lembaga pemikir, instansi pemerintah, dan organisasi internasional yang berasal dari 112 negara dan wilayah di seluruh dunia.
Abdul Hakim menyatakan pada satu sisi, perkembangan AI semakin memperluas ruang produksi dan penyebaran informasi oleh masyarakat sehingga berpotensi meningkatkan penyebaran misinformasi, disinformasi, serta mengaburkan batas antara informasi yang kredibel dan konten yang sekadar menarik perhatian publik.
Di sisi lain, AI justru membuka peluang strategis bagi industri media karena teknologi memungkinkan peningkatan efisiensi operasional, percepatan produksi berita, penguatan riset, serta pengolahan dan analisis data dalam skala besar (big data analytics).
"Hal ini menuntut insan pers untuk terus meningkatkan kapasitas, sekaligus mendefinisikan kembali nilai tambah manusia yang tidak mudah digantikan teknologi, terutama dalam hal penilaian editorial, sensitivitas sosial, etika, dan kedalaman analisis," tambah Abdul.
Menurut Abdul, bagi kantor berita yang memiliki akumulasi data dan arsip jurnalistik selama puluhan tahun, AI bahkan dapat menjadi instrumen untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang sulit ditiru.
"Secara khusus dalam konteks Redaksi NadiKabar, kekayaan arsip pemberitaan dan data jurnalistik yang terakumulasi selama hampir sembilan dekade merupakan aset strategis yang dapat dikembangkan melalui pemanfaatan AI," jelas Abdul Hakim
Artinya, masa depan jurnalisme bukan ditentukan oleh seberapa jauh AI mampu menggantikan manusia, tetapi oleh seberapa cerdas manusia memanfaatkan AI untuk menghasilkan jurnalisme yang lebih berkualitas, kredibel, dan bernilai.