NADIKABAR.COM — Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyebutkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur hingga pertengahan September 2026 telah mencapai Rp37 triliun dan menjangkau sekitar 643 ribu debitur.

Maman menyatakan dari total Rp37 triliun tersebut sebanyak Rp20 triliun di antaranya disalurkan untuk sektor produktif.

"Total penyaluran KUR di Jawa Timur sampai kemarin itu Rp37 triliun dengan jumlah debitur 643.000 UMKM, dan yang sudah teralokasi ke sektor produktif sebesar Rp23 triliun," katanya dalam Bursa Wirausaha Unggulan dan Akad Massal KUR Jawa Timur 2026 di Gedung Pusat Robotika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jatim, Rabu.

Maman menuturkan besarnya jumlah debitur menunjukkan pembiayaan KUR telah menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung pengembangan UMKM di daerah.

Meski demikian, ia menilai akses permodalan saja belum cukup untuk memastikan keberlanjutan UMKM karena pelaku usaha masih menghadapi beberapa persoalan seperti perizinan, sertifikasi dan akses pasar.

"Yang paling penting hari ini adalah pasar, karena problem kita yang paling utama bagi UMKM sebetulnya kalau sertifikasi dan perizinan itu on process, pembiayaan sudah kita bantu, tetapi sering sekali UMKM kita tidak mampu jual barangnya," ujarnya.

Ia mengatakan persoalan pasar menjadi penting karena UMKM dapat mengalami kesulitan mengembalikan pembiayaan apabila produk yang dihasilkan tidak terserap konsumen.

Maman mengungkapkan salah satu tantangan yang dihadapi UMKM mengenai akses pasar saat ini adalah lantaran membanjirnya produk impor di pasar domestik sehingga produk lokal harus bersaing dengan barang dari luar negeri.

Oleh sebab itu, Kementerian UMKM mendorong penguatan industri domestik melalui sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait dalam mengendalikan masuknya sejumlah produk impor yang berpotensi menekan daya saing produk UMKM.

Selain pembiayaan dan penguatan pasar, Maman menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten dan kota dengan perguruan tinggi untuk membangun ekosistem pembinaan UMKM yang berkelanjutan.

Ia mengatakan keberadaan inkubator usaha di perguruan tinggi, termasuk ITS, dapat menjadi salah satu ujung tombak dalam mendampingi UMKM agar mampu berkembang secara berkesinambungan.

"Makanya kita bersama-sama dengan kampus kita hidupkan inkubator, dan mudah-mudahan dari kebijakan ini lahir usaha-usaha mikro kecil dan menengah yang berkualitas dan bagus untuk bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri kita," katanya.