NADIKABAR.COM — Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan pentingnya investasi sumber daya manusia (SDM), riset, dan teknologi sebagai fondasi dalam membangun industri di kawasan transmigrasi setelah mempelajari pengembangan industri otomotif di China.

"Saya tertarik bukan pada produknya, melainkan pada prosesnya," kata Iftitah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.

Pernyataan tersebut disampaikan seusai kunjungannya ke Beijing Automotive Group (BAIC Group) di Beijing, China, Selasa (13/10), sebagai bagian dari agenda kerja Kementerian Transmigrasi pada 12–18 Oktober 2026.

Menurut Iftitah, pengalaman perusahaan otomotif tersebut menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak hanya ditentukan oleh keberadaan pabrik dan modal, tetapi juga oleh kualitas tenaga kerja, penguasaan teknologi, serta kemampuan penelitian yang dibangun secara berkelanjutan.

"Pertama, mereka berorientasi pada manusia. Itulah sebabnya mereka berinvestasi besar-besaran pada sumber daya manusia. Itu lesson learned pertama yang saya tangkap," ujarnya.

Ia menilai pengalaman tersebut relevan bagi transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa, sehingga pengembangan industri perlu disertai pendidikan, pelatihan, dan penyiapan tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia usaha.

Selain penguatan SDM, Iftitah menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam pengembangan industri dengan mencontohkan kemitraan BAIC bersama Hyundai dari Korea Selatan dan Mercedes-Benz dari Jerman.

Menurut dia, kemitraan dengan perusahaan yang telah memiliki pengalaman dan teknologi dapat menjadi sarana pembelajaran untuk memperkuat kemampuan produksi, keterampilan tenaga kerja, dan daya saing industri nasional.

"Tidak ada sesuatu yang bisa dibuat dalam semalam. Mereka membutuhkan puluhan tahun, tetapi pada titik tertentu akan terjadi akselerasi," katanya.

Iftitah juga menekankan perlunya membangun ekosistem industri yang melibatkan pemasok, lembaga penelitian, tenaga ahli, jaringan logistik, serta usaha pendukung agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

"Kalau kita berinvestasi dalam riset dan ekosistemnya terbentuk, pihak lain tidak perlu mulai dari nol," ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam konteks transmigrasi, pengembangan ekosistem tersebut dapat diarahkan pada pengolahan hasil pertanian dan perkebunan, kegiatan manufaktur, serta usaha pendukung sesuai dengan potensi sumber daya dan kebutuhan pasar masing-masing kawasan.

Sejalan dengan penguatan SDM dan riset tersebut, Kementerian Transmigrasi pada 2026 telah menerjunkan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang tergabung dalam 246 tim dari 10 perguruan tinggi untuk melakukan riset dan pendampingan di 53 kawasan transmigrasi.

Penerapan teknologi di kawasan transmigrasi antara lain dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin di Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, melalui pengembangan alat pengering pala yang menurut Kementerian Transmigrasi mampu memangkas waktu pengeringan dari tujuh hari menjadi dua hari.

Sementara itu, TEP Universitas Indonesia di kawasan Barelang, Batam, Kepulauan Riau, telah memfasilitasi pengurusan nomor induk berusaha (NIB) bagi 20 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat sebagai bagian dari pendampingan pengembangan ekonomi masyarakat.

Iftitah menilai keberhasilan pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur dari masuknya investasi atau berdirinya pabrik, tetapi juga dari peningkatan keterampilan masyarakat, perkembangan usaha lokal, serta terbukanya lapangan kerja dan sumber pendapatan baru.