Sebaliknya, produk specialty grade relatif lebih mampu bertahan karena memiliki karakteristik dan kebutuhan pasar yang lebih spesifik.
Untuk mengurangi tekanan tersebut, pemerintah mendorong diversifikasi feedstock atau bahan baku.
Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian dan terus didorong adalah pemberian bea masuk nol persen untuk LPG yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia.
Kebijakan tersebut berlaku sementara hingga awal 2027, namun Kemenperin tengah menyusun kajian untuk mengusulkan keberlanjutannya setelah mencatat peningkatan produktivitas industri selama implementasi kebijakan.
LPG sendiri dapat digunakan sebagai alternatif untuk menggantikan sebagian penggunaan nafta, salah satu bahan baku utama untuk menghasilkan produk turunan petrokimia.
Peluang diversifikasi juga terbuka melalui pemanfaatan sumber daya alam domestik. Salah satunya pengembangan teknologi Coal to Chemical melalui gasifikasi batu bara yang dapat menghasilkan metanol untuk selanjutnya diolah menjadi bahan baku lain petrokimia, seperti ethylene dan propylene.