NADIKABAR.COM — Angin di Tatar Galuh Ciamis membawa aroma doa yang lebih kental saat memasuki bulan Rabiul Awal. Bagi masyarakat setempat, momen Maulid bukan sekadar peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, melainkan waktu di mana sejarah dan spiritualitas berkelindan erat.
Di balik rimbunnya situs-situs bersejarah, warga kembali menghidupkan tradisi merawat benda pusaka, sebuah simbol penghormatan terhadap akar budaya yang telah menghidupi mereka selama berabad-abad.
Kepala Disbudpora Ciamis, Dian Budiyana, memandang rangkaian ritual ini sebagai paket lengkap yang menyatukan berbagai dimensi kehidupan. Menurutnya, ada napas religi yang berpadu dengan edukasi dan estetika seni di setiap prosesinya.
"Intinya berupaya menjaga dan merawat warisan leluhur. Di dalamnya ada unsur religi, pendidikan, kesenian dan atraksi budaya," ujar Dian.
Kalender budaya Ciamis sepanjang Agustus hingga September 2026 ini memang tampak padat. Berbagai wilayah bersiap menggelar hajatan adat, mulai dari Merlawu di Situs Patapan dan Ciluncat Sukadana, Nyuguh di Kampung Kuta, Nelesan di Nagarapageuh, hingga Jamasan di Situs Jambansari yang legendaris.
Dalam hitungan hari, tepatnya 28 Agustus 2026, warga Desa Wanasigra akan berkumpul di Situs Gandoang untuk melaksanakan Tradisi Merlawu. Sementara itu, salah satu prosesi yang paling dinanti, Nyangku di Panjalu, dijadwalkan bakal menyedot perhatian massa pada 7 September mendatang.
Bagi Dian, keriuhan ini bukan sekadar seremoni tahunan yang lewat begitu saja. Ia menegaskan bahwa setiap percikan air yang membasahi keris atau setiap doa yang dipanjatkan di makam leluhur adalah manifestasi rasa syukur kepada Sang Pencipta sekaligus cara masyarakat menjaga jati diri mereka sebagai orang Galuh.
"Upacara adat ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam melestarikan tradisi budaya yang rutin diselenggarakan masyarakat. Lewat prosesi adat, warga juga memanjatkan doa atas kesehatan, nikmat hidup dan hasil panen yang melimpah," kata Dian.
Menariknya, denyut pelestarian ini tidak berhenti saat bulan Maulid usai. Dian mencatat bahwa gairah serupa biasanya kembali muncul di desa-desa yang memiliki situs budaya saat menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
"Kami berharap konsistensi penyelenggaraan tradisi ini membuat warisan sejarah dan kearifan lokal Tatar Galuh Ciamis tetap terjaga sekaligus menjadi penguat identitas kebudayaan daerah," pungkasnya.
Berikut adalah potret ragam tradisi budaya di Kabupaten Ciamis yang rutin mewarnai bulan Rabiul Awal:
Di Desa Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, warga berkumpul di kawasan Makam Keramat Pangeran Undakan Kalangsari untuk ritual Nelesan. Nama tradisi ini diambil dari kata neles yang berarti membasahi atau membersihkan. Secara fisik, mereka membersihkan benda-benda pusaka peninggalan sesepuh, namun secara batin, ini adalah pengingat untuk menyucikan hati dari penyakit riya dan kesombongan.
Prosesinya sangat sakral. Tokoh adat mengambil air dari tiga sumber mata air-Cibarani, Cikahuripan, dan Cikamalang-menggunakan lodong bambu. Air inilah yang digunakan untuk membasuh puluhan pusaka sebelum akhirnya disimpan kembali. Suasana biasanya ditutup dengan pementasan seni yang meriah.
Setiap Maulid, Situs Jambansari atau Keraton Selagangga menjadi pusat perhatian. Di sini, benda-benda bersejarah seperti keris, pedang, dan tombak milik Museum Galuh Pakuan dikeluarkan untuk dijamasi. Dahulu, ritual ini bersifat tertutup bagi kalangan keturunan kerajaan saja, namun kini masyarakat umum bisa menyaksikannya.
Pusaka peninggalan Bupati RAA Kusumadiningrat dibersihkan menggunakan air dari tujuh mata air berbeda. Selain untuk mencegah kerusakan logam akibat usia, Jamasan membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kebersihan lahir dan batin bagi setiap manusia.
Nyangku mungkin menjadi salah satu tradisi paling ikonik di Ciamis. Ritual pembersihan pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora ini diawali dengan arak-arakan megah dari Bumi Alit menuju Nusa Gede, sebelum akhirnya dibawa ke Alun-alun Panjalu.
Menggunakan air Cai Karomah Tirta Kahuripan dari tujuh mata air, prosesi ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada sang prabu yang membawa ajaran Islam, tetapi juga menjadi daya tarik wisata religi yang selalu dipadati pengunjung dari berbagai penjuru negeri.
Di Desa Ciparigi, Kecamatan Sukadana, masyarakat menjaga tradisi Merlawu sebagai bentuk takzim kepada para penyebar agama Islam. Berpusat di Situs Ciluncat, tradisi ini menghubungkan memori kolektif warga dengan tokoh-tokoh besar seperti Kiai Haji Tanjung Karawang, Cacaraga, dan Surajaya yang jejaknya abadi di tanah Galuh.
Situs Kabuyutan Gandoang di Desa Wanasigra menjadi saksi bisu tradisi Merlawu yang kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Jawa Barat. Ritual ini didedikasikan sebagai wujud syukur atas hasil bumi dan penghormatan kepada Syekh Padamatan.
Rangkaiannya dimulai dengan Ngarangki atau mengganti pagar makam, disusul Nyiraman benda pusaka. Malam sebelum puncak acara, pawai obor biasanya berkeliling desa. Tradisi ini ditutup dengan tawasul dan makan bersama di area situs, sebuah momen hangat yang mempererat tali persaudaraan antarwarga.