Mata banteng menangkapnya sebagai gumpalan bayangan asing yang melanggar 'zona lari' mereka. Lantaran terkurung di dalam dinding arena dan tidak punya ruang untuk melarikan diri, naluri pertahanan banteng beralih dari mode menghindar menjadi menyerang.
Jika banteng buta warna merah, mengapa tradisi matador Spanyol bersikeras mengibaskan kain merah menyala?
Jawabannya berakar pada pertunjukan manusia, bukan fisiologi hewan. Berdasarkan catatan sejarah pertarungan banteng, matador legendaris Francisco Romero dari kota Ronda memperkenalkan kain yang dinamai muleta pada awal abad ke-18. Romero adalah pelopor seni adu banteng dengan berjalan kaki dan menggunakan pedang di babak pamungkas.
Warna merah tua pada kain muleta dipilih atas alasan yang ditujukan bagi penonton manusia yang trikromat:
Warna merah dipilih untuk mata penonton manusia, bukan untuk respons banteng.
Melalui paduan bukti fisiologi, catatan sejarah, dan etologi satwa liar, tabir mitos warna merah akhirnya tersibak seutuhnya.
Amarah banteng di arena adu bukanlah kemarahan terhadap sehelai kain merah. Itu adalah letupan naluriah dari seekor hewan mangsa yang terjebak di tengah lingkaran bising, membalas kibasan bayangan asing yang terus-menerus menantang insting pertahanannya.
Warna merah yang menyala tak pernah benar-benar ada di mata sang banteng, tapi hanya ada di benak manusia yang menyaksikannya.