Pada Jumat pagi, rangkaian acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan dari pemerintah daerah serta pemerintah desa. Setelah itu, warga bergerak menuju kawasan makam Syekh Padamatan untuk mengikuti tawasul dan doa bersama.
Ada satu aturan yang tetap dijaga ketika warga memasuki area makam. Mereka diminta melepas alas kaki sebelum melewati gapura yang menjadi batas kawasan makam. Hal sederhana tersebut menjadi bentuk penghormatan warga terhadap tempat yang dianggap sakral.
Setelah doa selesai, warga kemudian keluar dari area makam. Di sinilah suasana kebersamaan semakin terasa. Bekal makanan yang sejak pagi dibawa dari rumah dikeluarkan. Warga kemudian makan bersama atau botram, sambil berbagi makanan satu sama lain.
Menurut Yudi, tradisi berbagi makanan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Merlawu.
"Ini sebuah tradisi. Setelah melaksanakan tawasul dan doa bersama, masyarakat berbagi makanan. Masing-masing membawa makanan dari rumah, kemudian di sini saling berbagi dan bertukar makanan," katanya.
Bagi masyarakat Wanasigra, botram bukan sekadar makan bersama. Ada nilai kebersamaan dan gotong royong yang terus dirawat melalui tradisi tersebut.
"Ini simbol kebersamaan. Simbol kebersamaan dan kegotongroyongan yang alhamdulillah sudah terjalin," ujar Yudi.
Menurut Yudi, ada hal lain yang membuat Merlawu terasa istimewa bagi masyarakat Wanasigra. Tradisi ini juga menjadi alasan bagi warga yang tinggal di luar daerah untuk pulang ke kampung halaman. Bagi sebagian warga, momen berkumpul di Gandoang bahkan seperti tradisi mudik tersendiri. Yudi mengatakan warga yang merantau kerap menyempatkan diri pulang ketika Merlawu digelar.
"Yang unik, warga yang merantau di luar kota juga ikut pulang untuk merayakan kegiatan ini. Jadi bukan hanya saat Lebaran, ketika ada kegiatan Merlawu juga mereka mudik untuk mengikutinya," tuturnya.
Kehadiran warga perantauan membuat suasana Merlawu semakin ramai. Mereka kembali bertemu keluarga, kerabat dan tetangga yang mungkin selama ini hanya berkomunikasi dari jauh. Tradisi pun akhirnya menjadi ruang untuk menyambung kembali hubungan yang sempat berjarak.