Sementara itu, Kepala Disbudpora Ciamis Dian Budiyana mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam mempertahankan Tradisi Merlawu. Menurutnya, partisipasi warga dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat kuat dalam kehidupan masyarakat.

"Alhamdulillah, luar biasa dari tahun ke tahun. Partisipasi masyarakat sangat antusias. Tidak hanya masyarakat Wanasigra, tetapi ada juga warga dari luar daerah yang ikut berziarah ke makam sesepuh atau karuhun di Gandoang," kata Dian.

Ia menyebut kegiatan tersebut memiliki beberapa makna. Selain menjadi bagian dari syukuran di bulan Maulid, masyarakat juga menjaga peninggalan leluhur melalui rangkaian pembersihan benda pusaka dan ziarah.

Di balik tradisi itu, menurut Dian, ada nilai perjuangan para leluhur yang perlu dipahami generasi sekarang.

Syekh Padamatan, kata dia, merupakan salah satu tokoh yang memiliki peran dalam membuka dan mengembangkan kawasan yang kemudian menjadi tempat tinggal masyarakat. Karena itu, semangat perjuangan tersebut dinilai penting untuk diteruskan dalam bentuk pembangunan desa.

"Tokoh ulama seperti ini harus menjadi teladan bagi aparatur pemerintah desa dan masyarakat. Perjuangan para karuhun sampai akhirnya hasilnya bisa dinikmati sekarang harus kita hargai," ujarnya.

Dian berharap masyarakat tidak hanya menjaga tradisinya, tetapi juga meneruskan semangat membangun yang telah diwariskan para pendahulu.

"Sekarang bagaimana kita memanfaatkan apa yang sudah diwariskan ini supaya bisa berkembang lebih jauh. Semangat membangun harus terus kita pupuk agar kita juga bisa mewariskan hal-hal baik kepada generasi yang akan datang," katanya.

Menurut Dian, Merlawu bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Di Situs Kabuyutan Gandoang, warga Wanasigra menemukan ruang untuk bersyukur, berkumpul, berbagi makanan dan mengingat kembali bahwa kehidupan desa tumbuh dari kebersamaan.