Ia memulai langkahnya ke Austria lalu Thailand. Sepulang dari dua negara itu, Misbah merasa semakin percaya diri untuk menerapkan pengetahuannya dalam membangun hunian ramah lingkungan sendiri.
Proyek 'rumah tanah' resmi dimulai tahun 2024 silam. Tak cuma karena hasratnya, namun juga didorong kebutuhan hunian yang lebih besar untuk istri dan anak-anaknya. Banyak yang terlibat saat proyek ambisius itu berjalan.
"Proses bangun rumah ini sekitar satu tahun, melibatkan tukang, volunteer, dan teman-teman arsitektur dari luar negeri. Mereka datang dan pergi sehingga memantik pembangunan rumah secara gotong royong," tutur Misbah.
Material tanah yang digunakan bukan sekadar ditempelkan ke dinding begitu saja. Dalam praktiknya, pembangunan hunian itu mengadopsi teknik konstruksi yang memadukan material tanah, pasir, jerami, lalu struktur bambu, dan anyaman sebagai penguat. Teknik tersebut membuat material tanah dapat tetap berdiri kokoh sebagai bagian dari struktur dinding.
"Jadi saya sempat coba racikan tanah dicampur jerami dan tanah dengan pasir saja, hasilnya yang pakai jerami itu lebih aman enggak ada retak. Rumah saya waktu gempa kemarin juga aman, karena tulangan bambunya fleksibel," kata Misbah.