NADIKABAR.COM — Kota yang tangguh tidak cukup diukur dari kemampuannya menghadapi banjir, kebakaran, atau gempa bumi. Ketahanan juga tampak dari kemampuan melindungi anak-anak dari narkoba, mencegah kekerasan, dan memastikan setiap warga tumbuh dalam lingkungan yang aman serta saling menghormati.
Ancaman sosial semacam itu tidak selalu terlihat seperti bangunan runtuh atau jalan terendam. Dampaknya dapat tumbuh diam-diam di keluarga, sekolah, dan permukiman sebelum muncul sebagai persoalan yang mengguncang masyarakat.
Dalam tulisan ini, bencana moral digunakan sebagai metafora atas kegagalan kolektif mencegah kerusakan nilai, perilaku, dan perlindungan sosial, bukan sebagai kategori resmi penanggulangan bencana.
Bagi Kota Surabaya, peringatan itu nyata. Penggerebekan kawasan Jalan Kunti, temuan sejumlah pelajar SMP positif narkoba pada 2025, serta kasus dugaan perundungan terhadap anak penyandang disabilitas yang meninggal pada September 2026 menunjukkan pentingnya tindakan sebelum masalah berkembang menjadi tragedi.