"Dari tema ini kami ingin mengajak semua komponen yang ada di Kota Probolinggo dari mana pun asalnya. Karena budaya Pendalungan adalah perpaduan berbagai budaya khususnya Jawa, Madura, Arab, Tionghoa, Melayu dan pengaruh Eropa karena Kota Probolinggo adalah kota persinggahan," jelas wali kota.

Menurut Aminuddin, pengangkatan berbagai budaya tradisional dalam pawai juga menjadi upaya melestarikan potensi budaya asli Kota Probolinggo dan Jawa Timur. Pakaian adat yang dikenakan para pejabat dan peserta menjadi salah satu gambaran keberagaman dalam kegiatan tersebut.

"Mari bersama-sama dengan tema harmoni nusantara, siapa pun di Kota Probolinggo kita ajak melakukan proses pembangunan," pesan Dokter Aminuddin.

Seremonial pembukaan pawai ditandai dengan pemukulan alat musik dug-dug Kelabang Songo secara bersamaan oleh Wali Kota Aminuddin, Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, dan Forkopimda. Tarian Jaran Bodhag yang merupakan salah satu Warisan Budaya Takbenda Kota Probolinggo juga ditampilkan untuk menghibur masyarakat.

Pawai diikuti 23 kontingen yang tidak hanya berasal dari perangkat daerah di lingkungan Pemkot Probolinggo, tetapi juga melibatkan berbagai unsur lintas sektor.

Setiap kontingen membawa tema, karakter, dan kreativitas masing-masing yang menggambarkan kekayaan seni dan budaya Nusantara maupun potensi daerah.

Salah satunya Bank Jatim Cabang Probolinggo yang tampil sebagai peserta nomor urut 3. Kontingen tersebut mengangkat ikon mangga dan anggur yang selama ini dikenal sebagai identitas Kota Probolinggo.

Perpaduan karakter mangga dan anggur dengan unsur khas Probolinggo ditampilkan sebagai identitas visual yang menggambarkan kekayaan alam dan budaya daerah.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga turut ambil bagian dengan mempersembahkan kisah Cindelaras. Cerita rakyat tersebut mengisahkan seorang anak laki-laki yang tinggal di hutan bersama ibunya, yang sebenarnya merupakan permaisuri Kerajaan Jenggala.

Kisah Cindelaras dimaknai sebagai representasi semangat masyarakat Kabupaten Probolinggo untuk terus melestarikan budaya, merawat persaudaraan, dan bersama-sama membangun daerah.

Sementara itu, Sekretariat DPRD Kota Probolinggo menampilkan kisah Nyai Sekar Arum. Cerita tersebut mengangkat sosok perempuan bangsawan dari Blambangan yang dikenal memiliki kecantikan, kelembutan, serta kepiawaian menari dan melantunkan tembang.