NADIKABAR.COM — Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi pada Senin (5/10) mengatakan bahwa Mesir akan mempertahankan hak-haknya atas air Sungai Nil dengan segala cara yang diperbolehkan menurut hukum internasional.

Dalam pidato yang menandai peringatan 53 tahun Perang Oktober 1973 Mesir melawan Israel, al-Sisi menggambarkan Sungai Nil sebagai "urat nadi kehidupan Mesir dan landasan keberadaannya selama ribuan tahun."

Dia menegaskan bahwa porsi air Mesir merupakan "hak hukum historis yang telah mapan dan tidak dapat dinegosiasikan, serta tidak dapat dikompromikan atau dilanggar."

Al-Sisi mengatakan bahwa Mesir tidak akan menoleransi tindakan apa pun yang mengancam keamanan airnya. Pernyataan tersebut kembali menyoroti sengketa antara Mesir, Sudan, dan Ethiopia terkait Bendungan Hidase Ethiopia (Grand Ethiopian Renaissance Dam/GERD), yang diresmikan pada September 2025. Ethiopia menyatakan bahwa bendungan tersebut bertujuan untuk menghasilkan listrik dan mendukung pembangunan.

Mesir dan Sudan telah mengemukakan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap aliran air di hilir dan menyerukan perjanjian yang mengikat mengenai pengisian dan pengoperasian bendungan tersebut. Mengenai isu Palestina, Presiden Mesir itu menegaskan kembali bahwa pembentukan Negara Palestina yang merdeka, sesuai dengan resolusi legitimasi internasional, tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak untuk mewujudkan perdamaian yang adil dan langgeng, serta stabilitas yang berkelanjutan di seluruh Timur Tengah.