Meta juga mengatakan bahwa mereka ingin memastikan remaja mendapat manfaat dari "standar baru di industri ini", tetapi mengakui bahwa mereka tidak bisa melakukannya sendiri.
"Perlindungan ini hanya akan benar-benar efektif jika kami bekerja sama dengan rekan-rekan kami yaitu TikTok dan YouTube, untuk menerapkan langkah-langkah yang sama," kata perusahaan tersebut.
Meta mengatakan pembayaran akan dilakukan secara bertahap selama 10 tahun, dengan total yang berpotensi mencapai 18 miliar dolar atau sekitar Rp318,6 triliun.
70% dari jumlah tersebut akan diberikan kepada negara bagian yang ikut dalam gugatan, dan sekitar 30% sisanya baru akan dibayarkan jika dua syarat tertentu terpenuhi.
Meta menyatakan bahwa syaratnya adalah "YouTube dan TikTok menerapkan batas harian satu jam, mode malam, dan verifikasi usia," serta kedua perusahaan tersebut masing-masing membayar jumlah yang setara dengan porsi 30% mereka.
Jika YouTube dan TikTok ikut menerapkan aturan itu, Meta mengatakan akan memperketat aturannya sendiri. Batas penggunaan akan dikurangi menjadi satu jam per aplikasi, sementara mode malam diperpanjang dari pukul 22.00 hingga 07.00.
"Karena remaja berpindah-pindah dengan mudah di tim redaksi banyak aplikasi, kita membutuhkan solusi yang berlaku di seluruh industri," kata Chief Legal Officer Meta, C.J. Mahoney. Ia juga mengajak TikTok dan YouTube segera menerapkan aturan tersebut.
Mahoney mengatakan, sebagai orang tua, ia bangga atas upaya Meta selama ini dalam melindungi pengguna muda, serta kesepakatan baru yang disebutnya "terobosan besar".
Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Inggris