Apabila data yang digunakan hanya berasal dari Jakarta atau Pulau Jawa, maka hasil pengolahan AI tidak akan menggambarkan keragaman masyarakat Indonesia dan berisiko menghasilkan informasi tidak akurat.

"Kalau data kita hanya berasal dari Jakarta atau Pulau Jawa, maka AI akan menjadi bias. Pertama, datanya tidak valid. Kedua, AI cenderung menyenangkan penggunanya. AI memberikan validasi, bukan informasi. Padahal, yang kita perlukan untuk produktivitas adalah informasi yang akurat," jelasnya.

Meutya menekankan pentingnya keakuratan informasi yang dihasilkan AI, terlebih perkembangan teknologi seperti agentic AI memiliki kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.

Pengaman teknologi juga diperlukan agar inovasi tetap berjalan tanpa mengabaikan kendali dan kepentingan manusia.

"Keputusan akhir harus ada di tangan manusia. Ini sejalan dengan topik acara, yaitu kepemimpinan dalam AI. Kita harus menjadi pemimpin bagi AI itu sendiri," ujar Meutya.