"Saya dapat info saat sudah meninggal pukul 03.00 WIB. Saya dihubungi oleh temannya almarhum pukul 04.00 WIB," lanjutnya.
"Pukul 04.00 WIB saya dihubungi bahwa anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Tapi ada teman lainnya menginfokan jika tidak kecelakaan tapi dianiaya senior," imbuh Toni.
Sebelum dipulangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, jenazah Serda Ahmad menjalani proses autopsi di Jakarta. Toni juga menyebut, keluarga memperoleh informasi mengenai adanya luka pada tubuh almarhum, yang kemudian menjadi salah satu hal yang semakin menguatkan permintaan keluarga agar penyebab kematian diusut secara menyeluruh.
"Luka di wajah bagian dagu dan bagian dada infonya," jelas Toni.
Toni meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), hingga pihak terkait memastikan kasus kematian putranya diproses secara adil dan transparan. Ia berharap apabila dugaan penganiayaan tersebut terbukti, para pelaku mendapatkan sanksi berat dan kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan TNI AU.
"Mohon kepada pak Presiden (Prabowo), pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya. Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya," kata Toni.
"Kami terus terang menuntut keadilan. Apalagi kejadian di Mabes TNI AU, jadi istilahnya jadi percontohan nasional," ujar Toni.
"Harapan kami pada pelaku putusan sanksi yang berat kepada pelaku dan berharap tidak terulang lagi kejadian yang memakan nyawa prajurit anak tidak berdosa," imbuh Toni.
Sementara itu, dua hari sebelum Serda Ahmad meninggal, Toni sempat bertemu putranya di Jakarta ketika sedang menjalankan tugas mendampingi Bupati Madiun H Hari Wuryanto. Pertemuan pada Selasa (8/9/2026) itu bahkan sempat diabadikan dalam foto.