NADIKABAR.COM β€” Kepala Departemen Downstream & Mineral Ecosystem MIND ID Novi Muharam mengatakan, transisi energi dan ekosistem akal imitasi (AI) menambah permintaan mineral kritis 2–5 kali lipat pada 2050.

β€œSeperti yang kita ketahui, pemicu permintaan mineral kritis berasal dari kendaraan listrik (EV), energi terbarukan, baterai, dan AI. Sebelumnya, mungkin hanya butuh 0,5 kg per megawatt, tetapi sekarang kebutuhan timah di data center mencapai 4,5–5 kg per megawatt,” ujar Novi dalam Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) yang digelar di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu.

Melalui paparannya, Novi merinci bahwa kendaraan listrik membutuhkan enam kali lipat lebih banyak mineral kritis dibandingkan dengan kendaraan konvensional.

Sementara itu, untuk energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) membutuhkan 4–6 kali lipat lebih banyak mineral kritis apabila dibandingkan dengan pembangkit berbasis bahan bakar fosil.

Di sisi lain, mineral kritis juga memegang peranan penting untuk pengembangan battery storage atau penyimpanan baterai sebagai kunci stabilitas jaringan listrik dan keamanan energi dalam transisi energi.