"Kita ingin agar arus perdagangan tidak hanya bergerak dari Jawa Timur menuju Aceh, tetapi juga semakin membuka akses bagi produk-produk unggulan Aceh untuk menjangkau pasar Jawa Timur. Hal itu, menguatkan hubungan ekonomi serta persaudaraan antara Jawa Timur dan Aceh untuk tumbuh, berkembang, maju dan sejahtera bersama," imbuhnya.
Khofifah menambahkan setiap daerah memiliki keunggulan, kebutuhan, dan potensi yang dapat saling melengkapi. Karena itu, perdagangan antarwilayah menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat integrasi ekonomi nasional sekaligus memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat.
Khofifah menilai hubungan perdagangan Jawa Timur dan Aceh masih memiliki ruang besar untuk terus dikembangkan. Selain memperluas ragam komoditas yang diperdagangkan, kedua provinsi juga dapat menjajaki peluang kerja sama di sektor lain, termasuk pariwisata dan investasi.
Ke depan, Khofifah berharap misi dagang dan investasi ini menjadi pintu masuk bagi kemitraan bisnis yang lebih luas, tidak hanya melalui transaksi saat kegiatan berlangsung, tetapi juga lewat kerja sama berkelanjutan antara pelaku usaha kedua daerah.
Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah mengatakan Aceh tidak hanya memiliki potensi alam yang melimpah, tetapi juga pemandangan wisata yang indah. Dia berharap kerja sama tidak hanya mencakup sektor pertanian dan perkebunan, tetapi juga penguatan sektor pariwisata, sebagaimana telah disampaikan kepada Gubernur Khofifah.
"Orang Jawa Timur harus bisa merasakan bagaimana indahnya Aceh paling ujung Indonesia dan baru dianggap Indonesia Raya kalau orang sudah mengunjungi kilometer nol," tutupnya.
Rangkaian acara pembukaan misi dagang dan investasi ditandai dengan pemukulan alat musik geundrang dan penabuhan rapa le oleh Khofifah dan Fadhlullah. Acara dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama oleh lima perangkat daerah Provinsi Jawa Timur bersama perangkat daerah Aceh, serta penandatanganan kerja sama oleh empat asosiasi pelaku usaha dari Jawa Timur dan Aceh.