NADIKABAR.COM — Langkah kaki Riana Pratiwi (16) sore itu tampak biasa saja saat melintasi ambang pintu rumahnya di Desa Kadununggal, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi.
Jumat (4/9/2026), selepas pulang sekolah, siswi kelas 10 SMAN 1 Kalapanunggal itu mengutarakan niat sederhana yang lazim diucapkan remaja seusianya: jajan seblak tak jauh dari kediaman.
Sang ayah, Eeng Suryana, masih mengingat betul percakapan singkat sebelum putri semata wayangnya itu beranjak pergi meninggalkan pekarangan.
"Kabar ke keluarga terakhir itu katanya mau main, mau beli seblak. Sempat ketemu langsung sama saya, pas ditanya mau ke mana, bilangnya mau beli seblak. Saya sempat bilang, ya sudah jangan terlalu jauh perginya," kata Eeng saat dihubungi NadiKabar, Selasa (8/9/2026).
Namun, senja perlahan berganti pekat, dan langkah kaki Riana tak kunjung terdengar kembali ke rumah. Menit demi menit bergulir menjadi jam-jam penuh tanda tanya yang meremukkan ketenteraman keluarga.
"Ditunggu jam 5 sore belum ada, jam 6 sore belum ada, sampai jam 7 malam juga belum kunjung pulang. Bahkan sampai detik ini belum ada kejelasannya sama sekali," ucap Eeng.
Ketiadaan kabar itu segera disusul rentetan kejanggalan yang membuat dada sang ayah berdegup kencang. Riana yang tak pernah memiliki persoalan di rumah maupun sekolah mendadak memutus seluruh jembatan komunikasi ke dunia luar secara serentak.
Lebih mencurigakan lagi, lemari kamar remaja tersebut ternyata telah kosong dari beberapa potong pakaian ganti yang diduga disusupkan rapi ke dalam ransel krem yang dibawanya sore itu.
"Punya ponsel, cuma langsung diblokir semua. Akun media sosial segala macam juga ditutup. Ditelepon ke nomor biasa pun tidak pernah aktif. Pakaian di rumah juga ada yang dibawa, seperti celana cokelat dan kerudung," tuturnya.
Terakhir kali terlihat melangkahkan kaki menyusuri jalan kampung, gadis berkulit kuning langsat itu mengenakan baju putih, kerudung hitam, celana hitam, dan sandal selop putih.
Hari-hari pencarian yang membentur dinding buntu membawa Eeng melangkahkan kaki ke kantor polisi. Didampingi Kepala Desa Kadununggal, laporan resmi orang hilang akhirnya diserahkan ke meja kepolisian.
Kapolsek Kalapanunggal Iptu Aah Saepul Rohman membenarkan duduk perkara hilangnya siswi SMA tersebut yang bermula dari izin membeli jajanan.
"Menurut keterangan orang tuanya, anaknya pada hari Jumat sore meminta izin untuk jalan dan membeli jajanan seblak. Ternyata setelah meminta izin tersebut anaknya tidak pulang ke rumah," ujar Aah.
Kini, tim penyelidik kepolisian tengah menyisir petunjuk, menggali keterangan saksi, serta membangun komunikasi lintas pihak demi menyingkap tabir di balik hilangnya sang siswi.
"Orang tuanya diantar Kades Kadununggal sudah datang ke Polsek untuk melaporkan anak perempuannya yang belum pulang. Saat ini kepolisian terus menjalin komunikasi, terutama dengan pihak sekolah. Mudah-mudahan segera ditemukan dan kembali kepada orang tuanya," pungkasnya.