Miswati menambahkan, orang yang melintas sudah dari dulu memberikan sedekah uang. Bahkan ada yang memberikan satu kantong plastik berisi uang.

"Jadi sedekah mungkin biar diberikan keselamatan atau gimana. Penting dia sedekah di sini. Nggak mesti (jumlah nominal uangnya), kadang-kadang ada banyak. Kadang Rp 10 ribu, pernah bus ziarah itu sering (satu kantong plastik) Rp 100 lebih (dilempar)," ujar dia.

"Malam ada yang jaga. Kan gini (siang yang ambil uang siapa saja) yang lewat boleh ambil, malam pun siapapun yang ambil boleh. Cuman, kalau malam itu ada yang jaga (dua orang) jam 10 malam sampai pagi," kata dia.

Sementara itu, Kepala Dusun Tlogosari Zarkoni (60) mengatakan sesepuh yang dimakamkan di kawasan tersebut adalah pertama Wali Awak dan Wali Ahmad.

"Itu meninggalnya zaman Belanda. Dan kebetulan sugesti masyarakat sampai saat ini masih percaya kalau bersedekah di situ diberi keselamatan. Tapi, kalau lupa, kadang ada apa istilahnya, mungkin kecelakaan atau apa itu," kata Zarkoni.

"Ngasih uang. Buang, ngelempar. Dan Alhamdulillah itu juga membantu masyarakat di lingkungan yang punya anak sekolah. Tapi, Insyaallah itu halal karena tidak meminta. Istilahnya ngambil buangan dari orang lewat, sedekahnya yang lewat," ujarnya.

Ia juga menjelaskan sosok Salim yang berada di makam tersebut berasal dari Manado. Yang mana dulunya bekerja di Margoyoso sebagai penarik karcis.

"Om Lim (Salim) itu orang Manado di Margoyoso tukang karcis di pasar sini. Terus meninggal di situ, makanya termasuk terkenalnya Om Lim, Om Salim itu. Tapi Islam itu," kata dia.

"Tapi, yang paling sepuh itu Wali Awak sama Wali Ahmad. Tapi, untuk Wali Ahmad tuh makamnya belum terdeteksi karena longsor dulu. Kemarin yang Om Lim itu ada donatur dari Cilacap tahun 2025," kata dia.