Menurutnya, kepercayaan melempar uang di sana demi keselamatan muncul karena memang dulu sering ada kecelakaan. Dia menyebut kini kecelakaan berkurang, namun hal itu menurut Zarkoni juga karena jalan yang sudah bagus.
"Kalau zaman dulu-dulu tuh sering sekali (kecelakaan). Hampir tiap seminggu sekali pasti ada. Tapi, sugestinya memberi sedekah itu dengan cara melempar uang di situ, diberi keselamatan," bebernya.
"Ya, jarang (sekarang). Karena sudah mungkin ya jalannya sudah bagus, ada apa penerangan juga itu," katanya.
Ditemui terpisah, Kepala Desa Margoyoso, Adi Daya Perdana mengatakan, makam Ki Angkong tersebut sudah ada sejak zaman dahulu kala. Dia menyebut ada juga mitus jika tidak melempar uang maka jalan akan bercabang.
"Itu merupakan sesepuh yang ada di wilayah Margoyoso dan sekitarnya. Sehingga meninggal dimakamkan di situ. Konon berdasarkan penelusuran cerita warga mitosnya ketika tidak membuang atau melempar recehan atau uang di situ jalan menjadi bercabang," ujar Adi.
"Sekali lagi ini mitos versi warga. Tetapi, apapun itu poinnya adalah doa untuk keselamatan ketika perjalanan menjadi hal yang utama. Ketika ada sebagian rezeki Syukur-syukur bisa dibagikan kepada warga yang membutuhkan," tegasnya.
Adi mengatakan, dari dulu lokasi makam memang berada di pinggir jalan yang dianggap angker oleh masyarakat umum. Sedangkan warga sekitar menjaga makam itu dengan menjalankan tradisi nyadran.
"Tetapi, untuk lingkungan itu selama ini juga melaksanakan nguri-uri budaya yaitu bersih makam keliling. Itu dilaksanakan setahun dua kali oleh masyarakat saat nyadran. Sehingga apapun ada cerita, mitos dan sebagainya sisi lain desa tetap nguri-uri membersihkan makam secara rutin bersama masyarakat," pungkasnya.
Artikel ini telah naik di NadiKabar.