NADIKABAR.COM — Kelabang punya reputasi mengerikan. Orang percaya setiap ekor punya tepat 100 kaki. Orang percaya satu gigitan bisa berbahaya.

Kabar baiknya, sebagian besar itu salah.

Kelabang memang punya racun dan bisa menggigit manusia. Tapi studi menunjukkan sebagian besar gigitan hanya menyebabkan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan lokal. Kasus serius ada, tapi jarang sekali.

Berikut rangkumannya yang dihimpun NadiKabar dari sejumlah studi literatur, Selasa (8/9/2026).

Kelabang termasuk kelas Chilopoda, saudara jauh dari kaki seribu, laba-laba, dan kalajengking.

Mereka pemburu. Mangsanya tim redaksi lain kecoa, rayap, jangkrik, laba-laba kecil, dan larva serangga. Sebagai predator, kelabang membantu mengendalikan populasi serangga yang sering menjadi masalah di rumah dan kebun.

Kelabang punya sepasang "capit" bernama forcipules untuk menyuntik racun. Racun melumpuhkan mangsa. Jika terancam, mereka gunakan untuk pertahanan diri.

Istilah centipede berasal dari Latin: centum (seratus) dan pes (kaki). Tapi nama itu tidak sesuai kenyataan.

Natural History Museum di London menjelaskan kelabang hampir tidak pernah punya tepat 100 kaki. Jumlahnya bergantung pada spesies. Kelabang punya satu pasang kaki per ruas tubuh.

Dengan kata lain, kelabang bisa punya 15 pasang kaki (30 total), bisa punya 191 pasang kaki (382 total). Kisaran sebenarnya 30 hingga 382 kaki bergantung spesies dan stadium pertumbuhannya.

Mengapa tidak pernah 100? Karena kelabang selalu punya jumlah pasang kaki yang ganjil. Untuk punya tepat 100 kaki, kelabang harus punya 50 pasang-bilangan genap. Tidak mungkin.

Mitos muncul karena orang tahu nama "seratus kaki" tapi tidak tahu itu hanya nama umum, bukan angka sebenarnya.

Kelabang memang berbisa. Tapi sebagian besar tidak membahayakan manusia sama sekali.

Dari 3.500 spesies kelabang yang dikenal, kurang dari 0,5%-sekitar 15 spesies-benar-benar masalah medis bagi manusia. Mayoritas gigitan menyebabkan nyeri lokal hingga sedang, jarang berlanjut menjadi sesuatu yang serius.

Berbisa ≠ mematikan. Lebah berbisa. Tawon berbisa. Kalajengking tertentu berbisa. Tapi hanya sebagian kecil yang fatal.

Begitu juga kelabang. Mayoritas kasus tidak berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa.

Status: Secara teknis benar, tapi sungguh-sungguh jarang

Kematian akibat gigitan kelabang pernah terjadi. Literatur medis punya laporan. Tapi ini sangat langka.

tim redaksi 1979 dan 2001, hanya 6 orang di Amerika Serikat meninggal karena gigitan kelabang. Untuk perbandingan: 1.060 orang mati akibat lebah, tawon, dan hornets dalam periode yang sama.

Ketika kematian terjadi, hampir selalu karena reaksi alergi berat (mirip reaksi alergi parah terhadap sengatan tawon) bukan karena racun langsung.

- Nyeri hebat- Kemerahan- Pembengkakan- Sensasi terbakar- Rasa kesemutan

Beberapa juga melaporkan sakit kepala, mual, pusing. Reaksi alergi pada sebagian kecil pasien. Itu saja. Sebagian besar pulih tanpa komplikasi serius dalam beberapa hari hingga minggu.

Kelabang bukan pemburu manusia. Mereka cenderung lari ketika terganggu.

Sebagian besar gigitan terjadi karena kecelakaan, misalnya manusia menginjak mereka, mereka terjepit, manusia bersentuhan tanpa sengaja, atau mereka terjebak di pakaian dan tempat tidur. Laporan kasus dari Hong Kong menunjukkan banyak gigitan terjadi di dalam rumah malam hari ketika orang tidak sengaja kontak dengan kelabang.

Kelabang tidak ingin bertemu manusia. Manusia justru yang secara tidak sengaja bertemu mereka.

Status: Sebagian benar, tapi sangat jarang

Beberapa kasus memang menunjukkan kerusakan jaringan lokal (nekrosis). Namun, kondisi tersebut bukan hasil standar dari gigitan kelabang. Mayoritas pasien hanya mengalami nyeri dan pembengkakan yang membaik dalam beberapa hari hingga minggu.

Nekrosis termasuk komplikasi yang jarang, bukan umum. Dalam sebagian besar laporan medis, gejala yang paling sering dilaporkan adalah nyeri, pembengkakan, dan sensasi terbakar-bukan kerusakan jaringan.

Kelabang adalah predator alami. Mereka makan kecoa, rayap, jangkrik, dan serangga kecil lainnya. Keberadaan kelabang membantu menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar rumah dan kebun.

Ya, mereka menakutkan. Tapi secara ekologis, mereka punya tujuan. Malah, mengurangi populasi kelabang bisa berarti meningkatnya populasi serangga yang lebih mengganggu.

Menurut panduan klinis StatPearls, penanganan awal meliputi:

Kelabang suka tempat lembap dan gelap. Untuk mengurangi kemunculannya:

Kelabang punya racun dan bisa menggigit manusia. Itu benar.

Mitos besar mengatakan semua kelabang mematikan, punya 100 kaki, dan bikin daging membusuk. Mitos itu salah.

Mereka menakutkan, ya. Tapi tidak seburuk reputasinya.