Data yang terungkap mencakup tanggal lahir dan nomor telepon pengguna, bahkan nomor kontak orang-orang yang tersimpan di buku teleponnya. Salah satu nomor tersebut ternyata merupakan nomor telepon Perdana Menteri Australia.
Kekhawatiran mengenai keamanan nasional telah mendorong sejumlah negara lain, seperti Inggris dan Polandia, melarang mobil China berada di lokasi-lokasi sensitif. Namun, sejauh ini belum ada indikasi bahwa China meminta produsen mobilnya untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap negara lain.
Meski demikian, anggota parlemen Inggris tahun lalu mencatat bahwa pemerintah China memiliki hak secara hukum untuk mengakses data yang dikumpulkan kamera, sensor, dan sistem radar pada kendaraan yang dibuat menggunakan teknologi China.
Di sisi lain, persoalan keamanan otomotif bukanlah hal baru dan kekhawatiran tersebut tidak hanya terbatas pada mobil China. Sebuah studi Mozilla pada 2023 menemukan bahwa seluruh 25 merek mobil yang diteliti mendapatkan label peringatan “Privacy Not Included” karena dinilai memiliki perlakuan buruk terhadap data konsumen.
Dua merek, Nissan dan Kia, bahkan disebut memantau “aktivitas seksual” pengemudi dan informasi mengenai “kehidupan seksual” pemilik kendaraan. Sebanyak 84 persen merek yang disurvei juga menjual data yang mereka kumpulkan kepada pihak ketiga.
Sejumlah kasus peretasan kendaraan juga sebelumnya telah dilaporkan, termasuk pada Tesla, Kia, dan Subaru, dengan peretas diduga dapat memperoleh berbagai bentuk akses terhadap kendaraan tersebut.