NADIKABAR.COM — mama di Teluk Wondama, Papua Barat, kini bisa tersenyum riang. Minat mereka untuk bertanam sayuran di halaman rumah kini bisa terwujud melalui pupuk sampah organik.
Mama-mama di Teluk Wondama tersebut belajar mengolah sampah dapur menjadi ekoenzim dan daun menjadi kompos dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI).
"Sekarang sampah di rumah sudah tidak dibuang lagi. Setelah adik-adik datang, sampah kami olah untuk menyuburkan tanaman di pekarangan dan juga mengurangi kotoran. Sebelumnya kami hanya bakar rumput lalu abunya ditaruh di pohon-pohon," ujar salah satu peserta pendampingan Mama Olhal Netennya, dalam keterangan tertulis, Minggu (8/11/2026).
"Harapan kami, pengalaman ini bisa kami bagi ke yang lain supaya semua bisa ikut menanam," sambungnya.
Pendampingan ini berawal dari tingginya semangat warga Tamoge bercocok tanam, namun terkendala kesuburan tanah dan mahalnya sarana pertanian.
"Warga sangat bersemangat menanam sayur jika difasilitasi, tetapi tanahnya kurang subur. Oleh karena itu, kami berinisiatif mengolah sampah rumah tangga agar bermanfaat untuk menyuburkan tanah," kata anggota TEP UI Rathalia.
Pendampingan ini diikuti 20 mama-mama dari Satuan Permukiman (SP) 1 dan 2 Tamoge, Kawasan Transmigrasi Werianggi. Lokasinya sekitar empat jam dari Wasior, kota terdekat, dan belum ada sosialisasi maupun pendampingan pengelolaan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (LH).
Para Mama memanfaatkan sampah dapur seperti kulit buah dan potongan sayur sebagai bahan ekoenzim. Mereka melarutkan 100 gram gula merah dalam 1 liter air, lalu mencampurnya dengan 300 gram limbah organik yang telah dipotong kecil.
Campuran kemudian disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat teduh selama tiga bulan, dengan tutup sesekali dibuka untuk mengeluarkan gas. Hasilnya dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman, membersihkan lantai, dan mengurangi bau tempat sampah.
Sampah organik yang tidak dapat dijadikan ekoenzim dicampur daun kering menjadi kompos.
Kini, para Mama mulai menanam cabai, tomat, terong, dan sawi di pekarangan masing-masing tanpa bergantung pada pupuk dan pestisida kimia yang mahal.
Hal ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai pentingnya kemandirian pupuk dalam mendukung swasembada pangan nasional.
"Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita akan menjadi bangsa yang sangat-sangat kuat, Saudara-saudara," ujar Prabowo.
Sejalan dengan arahan Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan agar TEP tidak hanya mengidentifikasi persoalan di lapangan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
"Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, feasible, dan masuk akal," ujar AHY.
Senada, Menteri Transmigrasi (Mentrans), M Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan kehadiran TEP harus meninggalkan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
"Jangan hanya meninggalkan laporan. Tinggalkan karya," ujar Iftitah.
"Tinggalkan solusi. Dan yang paling penting, tinggalkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat," pungkasnya.