NADIKABAR.COM — Demi mencegah kebakaran hutan dan lahan meluas di Kalimantan Timur, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) digalakkan untuk menurunkan hujan.

OMC di Kaltim menggunakan pesawat Smart Cakrawala Aviation jenis Cessna 208 Caravan dengan registrasi PK-SNP. Penerbangan perdana telah dilakukan Senin (24/8) malam, dilanjutkan sampai Jumat (28/8) mendatang.

"Kami memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan OMC, termasuk memperkuat koordinasi dengan tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pihak terkait," kata Bupati Berau Sri Juniarsih Mas seperti dikutip tim redaksi, Rabu (26/8/2028).

Pelaksanaan OMC dimulai dari Bandara Kalimarau di Teluk Bayur, awal mengudara pada Senin pukul 20.46 WITA dengan durasi penerbangan sekitar 99 menit pada rute lokal area Berau untuk menabur garam dan kembali mendarat pukul 22.25 WITA.

Bahan semai yang digunakan berupa garam (NaCl) murni seberat satu ton, dikemas dalam 50 karung dengan berat masing-masing 20 kilogram. Sementara tim terdiri pilot dan co-pilot, dua flight scientist, serta dua orang penabur garam.

"Operasi ini merupakan salah satu upaya pencegahan karhutla, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca panas dan kekeringan yang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Sementara upaya mitigasi lain yang di darat juga tetap berlangsung, baik edukasi ke masyarakat, pencegahan, hingga penanganan," katanya.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengakui hujan menjadi cara paling efektif untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Pemerintah pun menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang masih memiliki bibit awan hujan seperti Berau.

"Cara yang paling efektif untuk memadamkan itu ya hujan. Kalau ada hujan alam alhamdulillah, tapi karena memang musim kemarau biasanya tidak ada hujan," kata dia saat melakukan peninjauan karhutla di Berau, Rabu (26/8/2026).

Menhut mengatakan OMC di Berau sudah memasuki hari ketiga. Menurut dia, Berau menjadi salah satu wilayah yang masih memiliki bibit awan hujan untuk disemai.

"Berau alhamdulillah masih ada awan hujan yang bisa disemai, dan kami sudah sepakati, di mana pun di daerah di Indonesia ini yang ada bibit hujannya kita akan adakan OMC," ujar Menhut.

Kondisi El Nino yang sangat kuat menjadi salah satu tantangan dalam penanganan Karhutla. Dia membandingkan kondisi tersebut dengan El Nino 2015, ketika 2,6 juta hektare lahan kawasan dan non-kawasan terbakar.

"Apalagi sekarang masuk El Nino sangat kuat, ini sama dengan 2015. Kalau kita melihat referensinya itu sebenarnya ini kekuatan El Nino ini sama dengan 2015," katanya.

Pemerintah telah melakukan OMC sejak Januari untuk mengantisipasi kekeringan dan potensi kebakaran, terutama dengan membasahi daerah gambut di sejumlah provinsi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau, Masyhadi Muhdi menambahkan OMC dijadwalkan berlangsung selama lima hari mulai Senin hingga Jumat.

Rata-rata penerbangan untuk penaburan garam dua kali sehari atau 10 kali selama lima hari sesuai dengan agenda. Sedangkan untuk waktu semai garam tergantung kondisi cuaca, sehingga bisa dilakukan pagi, sore atau malam.

"Penaburan garam harus memperhitungkan kondisi awan dan kecepatan angin secara cermat, karena mulai proses semai hingga turun hujan membutuhkan waktu tim redaksi 2 menit hingga 2 jam, tergantung pada kondisi tertentu," katanya.

Jika garam disemai ke awan jenis Cumulonimbus atau awan yang sudah matang dan jenuh uap air, maka bisa menghasilkan reaksi lebih cepat dan menghasilkan hujan.

Hal lain yang diperhitungkan adalah arah dan kecepatan angin yang akan menentukan seberapa cepat awan yang telah disemai bergeser dan menjatuhkan butiran air ke wilayah sasaran.

Kandungan uap air di sekitar lokasi penaburan yang mempengaruhi kecepatan garam menyerap air (higroskopis) juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan operasi modifikasi cuaca.