NADIKABAR.COM — Operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran TPA Putri Cempo di Solo belum dilakukan. Pelaksanaan OMC masih menunggu perkembangan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.

"Memang saat ini armada untuk melakukan OMC sudah disiapkan di Bandara Ahmad Yani. Tapi pelaksanaannya menyesuaikan kondisi teknis, melihat potensi pertumbuhan awan," kata Kabid Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng), Armin Nugroho, saat dihubungi NadiKabar, Rabu (9/9/2026).

"Sampai saat ini untuk pemadaman TPA belum menggunakan metode OMC," imbuh Armin.

Armin menjelaskan, OMC membutuhkan keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan di wilayah target, yakni Kota Solo. Biasanya, awan yang digunakan merupakan awan cumulus.

"Jika kondisi atmosfer benar-benar kering tanpa awan, OMC tidak bisa dilakukan karena tidak ada media untuk 'disemai'," kata Armin.

"Awan buatan tidak dibuat dari nol, teknologi OMC hanya mempercepat proses pertumbuhan awan yang sudah ada, menjadi hujan. Jika tidak ada awan sama sekali, OMC tidak bisa dilakukan," imbuhnya.

Ia mengatakan, sebelumnya memang sudah dilakukan OMC dari Bandara Soekarno Hatta. Namun, OMC itu diprioritaskan ke arah barat dengan metode water mist untuk mengurai debu akibat letusan gunung Anak Krakatau.

Dia mengatakan, kondisi apakah OMC memungkinkan dilakukan pada hari ini, tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan pengamatan dari permukaan. Kajian tersebut membutuhkan data teknis, termasuk hasil pemantauan satelit dan sejumlah faktor atmosfer lainnya.

"(Apakah hari ini dimungkinkan dilakukan OMC?) Kalau itu tanyakan langsung ke BMKG, yang lebih tahu secara teknis," ujarnya.

Armin menyebut, tim BNPB yang dibantu tim BPBD di Bandara Ahmad Yani akan mengkaji kemungkinan dilaksanakan atau tidaknya OMC. Jika dilaksanakan, tim itu juga yang menentukan di mana, kapan, dan bahan apa yang akan ditabur dalam OMC.

"Tim terdiri dari BNPB dan BPBD sebagai tim pendukung. Untuk pelaksanaannya, orang-orang yang sudah ahli di bidangnya, pilot, tim menyemai bahan," urainya.

Saat ditanya apakah terdapat rencana OMC untuk membantu wilayah yang mengalami kekeringan, menurutnya hal itu kembali bergantung pada keberadaan awan potensial.

"Kembali lagi kepada potensi pertumbuhan awannya," terangnya.

Sementara itu, Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Winda Ratri, mengatakan potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Jateng saat ini berada di kisaran 50-70 persen.

"Kalau dilihat dari potensi pertumbuhan awannya, kondisinya sedang, 50 sampai 70 persen. Termasuk sebagian kecil wilayah Kabupaten Karanganyar. (Dekat Solo?) Iya.," kata Winda saat dihubungi NadiKabar.

Namun, kata Winda, kondisi tersebut belum otomatis berarti OMC dapat dilakukan. Menurutnya, banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum penyemaian awan dilakukan.

"Keputusan apakah dilakukan OMC atau tidak, dipengaruhi banyak hal. Banyak stakeholder yang juga harus berunding atau menentukan apakah akan dilakukan OMC," jelasnya.

Winda menambahkan, untuk kondisi cuaca hari ini, sebagian wilayah di Jateng diperkirakan akan berawan hingga awal malam. Potensi hujan pun tidak terlalu tinggi.

"Untuk beberapa hari ke depan ini secara umum Jawa Tengah juga rata-rata paling tinggi (awan potensial) di angka 70 persen. Untuk potensi awan hujan tinggi masih belum ada wilayah yang lebih dari 70 persen untuk sampai sekitar tiga hari ke depan," katanya.

Kondisi tersebut pun disebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan OMC. Sebab, OMC membutuhkan awan yang sudah terbentuk dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi hujan.

"Dalam satu kegiatan OMC itu ada beberapa pihak, dari BMKG, kemudian BNPB, kemudian operator atau penyelenggaranya. Kami memberikan data cuaca, potensi cuaca seperti apa, potensi pertumbuhan awan, baru nanti kita lihat kondisi riil di lapangannya," tuturnya.

"Apakah memang di tempat targetnya sudah ada, jika memang sudah terlihat adanya pertumbuhan awan ataupun ada yang bisa kita semai, itu biasanya bisa kita lakukan di lapangan," tambah Winda.

Sebelumnya diberitakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) menyebut Badan Penanggulanan Bencana Nasional (BNPB) bakal menggunakan mekanisme Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dalam pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo. Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Bergas C Penanggungan menyebut modifikasi cuaca ditarget pekan ini.

"Informasi yang kami terima, selanjutnya kita mencoba untuk membangun awan dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilaksanakan oleh BNPB," kata Bergas di Kantor Pemprov Jateng, Senin (7/9).

"Mungkin sekitar tanggal 9-10 (September) harapannya sudah beroperasi. Karena kalau kita lihat sudah ada awan-awan yang mungkin bisa membantu berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca," lanjutnya.