Arifin menyebut kebutuhan bioetanol untuk mendukung program pencampuran bahan bakar berpotensi mencapai skala besar. Untuk mendukung E20 saja, menurutnya dibutuhkan sekitar 2,2 juta kiloliter bioetanol.
Karena itu, Arifin menyatakan kesiapan mendukung program pemerintah menuju E20. Asosiasi juga telah berkoordinasi dengan pelaku singkong di berbagai daerah untuk mempersiapkan pasokan bahan baku.
"Kami siap 100 persen mendukung program E50. Yang penting bahannya," tegas Arifin.
Untuk mendukung kebutuhan bahan baku tersebut, MSI menyatakan siap berpartisipasi dalam pengembangan sekitar 500 ribu hektare lahan singkong.
Namun, Arifin mengatakan pengembangan dalam skala besar membutuhkan penguatan sektor hulu, terutama penyediaan benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian, serta skema pembiayaan.
Kebutuhan benih menjadi salah satu perhatian utama. Arifin menjelaskan satu hektare lahan membutuhkan sekitar 8.000 hingga 10.000 stek. Karena itu, pengembangan ratusan ribu hektare membutuhkan penyediaan benih dalam jumlah sangat besar.
"Benihnya harus benih unggul yang bisa menghasilkan produktivitas singkong dan kadar pati yang baik. Karena yang untuk diolah menjadi bioetanol itu tergantung pada patinya," ujarnya.