Di sisi industri, MSI juga melakukan komunikasi dengan sejumlah investor yang berminat mengembangkan pengolahan singkong menjadi bioetanol.
"Kami sudah melakukan beberapa kontak dengan para investor, terutama di pengolahan singkong menjadi bioetanol. Beberapa investor sudah siap," katanya.
Menurut Arifin, kepastian pasar atau off-taker menjadi salah satu faktor penting agar investasi bioetanol dapat segera direalisasikan. Kepastian pasar juga dibutuhkan untuk memastikan peningkatan produksi petani terserap oleh industri.
MSI mengusulkan pengembangan industri bioetanol dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan sentra produksi singkong. Salah satu skema yang disiapkan adalah pola kemitraan inti-plasma, sehingga petani dapat terlibat langsung sebagai pemasok bahan baku.
Arifin menilai pengembangan bioetanol dapat menjadi bagian penting dari hilirisasi singkong nasional. Selain membuka pasar baru, industri tersebut berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperluas keterlibatan petani dalam rantai industri energi.
MSI berharap sinergi pemerintah, petani, asosiasi, investor, dan industri terus diperkuat. Dengan demikian, kebijakan pengendalian impor dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produksi domestik dan pembukaan pasar baru melalui bioetanol.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan harga singkong di angka Rp1.350 per kilogram.