"Kami berharap ini adalah momentum sejarah yang sangat penting, terutama bagi teman-teman disabilitas. MTQ harus inklusif, MTQ harus bisa diikuti oleh semua kelompok umat Islam, meskipun dengan beberapa keterbatasan," tuturnya.

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI Muchlis M Hanafi menyampaikan bahwa ajang tersebut diikuti oleh 28 peserta putra dan putri. Para peserta merupakan utusan dari 14 komunitas Tuli Muslim yang tersebar di sembilan provinsi di Indonesia.

"Layanan keagamaan tidak boleh dibeda-bedakan, kita harus memberikan layanan yang berkeadilan. Eksibisi ini menjadi tahap pengenalan, pengujian, dan penyempurnaan, sebelum tartil Al-Qur'an isyarat dipertimbangkan menjadi cabang resmi dalam Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ)," ungkapnya.

Muchlis juga menjelaskan, para peserta tampil dalam dua kategori perlombaan, yakni metode kitabah dan metode tilawah. Penilaian dilakukan oleh dewan hakim yang terdiri dari unsur tuli dan nontuli, yang memahami pedoman serta metode Al-Qur'an Isyarah.