Melalui program ini, lanjut Elizabeth diharapkan dapat mendorong penyandang disabilitas untuk semakin mandiri dan produktif, sekaligus mendukung pengembangan ekosistem batik yang inklusif di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Branch Manager MUF Yogyakarta, Sulasno, menambahkan program membatik diharapkan dapat mendorong para peserta untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi dari karya yang dihasilkan.
“Semoga dari kegiatan membatik ini lahir karya-karya yang membanggakan, memiliki nilai ekonomi, serta mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan perekonomian keluarga,” ujarnya.
Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, berharap kegiatan tersebut dapat mendorong lahirnya identitas batik difabel Yogyakarta yang khas dengan karakter dan nilai budaya tersendiri, sekaligus membuka ruang bagi munculnya talenta-talenta baru di bidang pembatikan.
Sementara Kepala Dinas Sosial DIY, Suyarno menyatakan pemberdayaan penyandang disabilitas tidak hanya dilakukan melalui pemberian bantuan, tetapi juga dengan membuka akses dan kesempatan agar mereka dapat berkarya secara berkelanjutan.