Kondisi itu membuat tanggul penahan lumpur harus terus disesuaikan agar tetap mampu menahan dan mengendalikan aliran lumpur. Untuk penanganan di lokasi, PPLS telah menyiapkan tiga unit alat berat. Pada malam saat kejadian, baru satu unit alat berat berada di lokasi, kemudian jumlahnya ditambah menjadi tiga unit.
Alat berat tersebut digunakan untuk melakukan peninggian dan penguatan tanggul menuju elevasi yang ditargetkan.
Mahdani juga meminta seluruh pihak yang berada di lapangan untuk melakukan koordinasi dan menyampaikan laporan secara terpadu. Data mengenai kondisi tanggul dan penanganannya akan diserahkan kepada bidang terkait agar informasi yang diterima masyarakat tidak berbeda-beda.
"Semua pihak wajib melapor dan berkoordinasi. Data harus diserahkan ke kabid supaya informasinya seragam dan tidak menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat," pungkasnya.
PPLS menilai kondisi rembesan tersebut bukan merupakan tanggul jebol maupun kegagalan proyek. Penanganan tanggul di kawasan Lumpur Lapindo harus dilakukan secara berkelanjutan karena kondisi tanah terus mengalami penurunan dan perubahan.
"Peninggian tanggul menjadi salah satu langkah untuk menyesuaikan konstruksi dengan kondisi alam di sekitar kawasan terdampak Lumpur," pungkasnya.