Menurut Pramono, pembangunan giant sea wall akan mempermudah PAM Jaya mengubah air payau menjadi air tawar. Dia berharap proyek giant sea wall segera dimulai.
"Untuk di Jakarta, itu memang kalau itu bisa dilakukan, maka suplai untuk air payau atau air tawar untuk kebutuhan diolah menjadi air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan gampang pemerintah DKI Jakarta melalui PAM Jaya, kami siap untuk melakukan itu," ujarnya.
Direktur Operasional PAM Jaya Syahrul Hasan mengatakan pihaknya telah menerapkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di sembilan pulau di Kepulauan Seribu. Teknologi tersebut, katanya, digunakan untuk mengolah air laut menjadi air dengan standar air minum.
"Desalinasi yang kemudian mengambil air bakunya dari laut itu sebenarnya sudah kita lakukan di sembilan pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Kita menyebutnya dengan SWRO, yaitu mengelola air laut menjadi air PAM berstandar air minum," kata Syahrul di kantor PAM Jaya, Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Namun, Syahrul mengatakan penerapan desalinasi air laut untuk wilayah Jakarta daratan belum dilakukan. Menurutnya, pengolahan air laut seperti itu membutuhkan upaya besar.
Direktur Teknik PAM Jaya Santika menjelaskan kendala utama pengolahan air laut menjadi air bersih. Salah satunya ialah tingginya kebutuhan energi dalam proses SWRO.
Menurutnya, air laut memiliki kandungan total dissolved solids (TDS) dan garam yang tinggi. Dia mengatakan air laut tidak bisa diolah menggunakan sistem pengolahan air biasa.
"Air bakunya itu air laut, di mana air laut itu kandungan TDS-nya yang sangat tinggi, juga kandungan garam. Nah, ini tidak bisa kita lakukan secara sistem pengolahan yang biasa," kata Santika.
Pengolahan SWRO dilakukan melalui proses penyaringan dengan tekanan tinggi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan energi dan biaya perawatan menjadi besar.