"Ini yang menjadi PR besar di dunia pengolahan air, yang dilakukan dengan menggunakan filter. Jadi kita bayangkan mengolah air dengan filter yang cukup rapat sehingga memerlukan effort yang sangat besar," jelasnya.

"Selain effort yang sangat besar, juga harus menggunakan energi yang tinggi karena butuh pressure," sambungnya.

Tingginya kebutuhan energi itu kemudian berdampak pada biaya operasional pengolahan air. Dia mengatakan biaya produksi untuk mengubah air laut menjadi air tawar sangat tinggi.

"Impact-nya apa? Akibatnya adalah biaya operasional yang cukup tinggi dan juga biaya perawatan yang sangat tinggi. Nah, oleh karena itu, cost production-nya pun otomatis akan tinggi," ujarnya.

Santika mengatakan salah satu solusi yang dapat membantu penyediaan sumber air baku Jakarta ialah pembangunan tembok laut raksasa (giant sea wall). Menurutnya, tanggul tersebut dapat menjadi bagian dari sistem penampungan air.

"Di DKI Jakarta itu kan ada 13 sungai yang melintasi DKI Jakarta dan itu butuh kita lakukan penampungan," jelasnya.

Dengan adanya penampungan, sumber air yang digunakan dapat berasal dari air sungai. Santika mengakui masih terdapat tantangan lain, yakni tingginya polutan di air sungai.

"Memang menjadi problem lagi adalah polutan, polutannya sangat tinggi. Tetapi dengan adanya bak penampungan, otomatis secara alami akan terjadi pemisahan polutan-polutan tersebut dengan secara alami, yaitu pengendapan," tuturnya.