Pilihan kata tersebut membuktikan bahwa sang seniman sengaja menekan ego demi kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Bagi Sinyo, mural tersebut bukan sekadar identitas kelompok supporter, melainkan sebuah seruan moral agar masyarakat Kota Malang kembali bergandengan tangan menatap masa depan.
"Dia meletakkan egonya dan melihat kepentingan yang lebih luas. Malang ini sudah banyak peristiwa, banyak kejadian yang membuat semuanya pecah belah. Dia ingin spirit Malang itu kembali seperti dulu, Malang Tanah Kejayaan," jelas Sinyo.
Ia menegaskan bahwa pesan utama dari mural tersebut diperuntukkan bagi seluruh lapisan masyarakat, baik pencinta sepak bola maupun warga biasa. Nilai historis dan kultural inilah yang dinilai ikut lenyap ketika karya seni tersebut ditimpa dengan lukisan baru.